Ulos Batak Toba

Batak Toba, selain istilah "Horas", nya, dan karakternya yang khas, keras, cepat dan blak-blakan, juga terkenal dengan kain tenunnya yang khas, yaitu Ulos.

Ulos, adalah sejenis kain berbentuk selendang, yang merupakan suatu benda sakral bagi masyarakat suku Batak Toba. Selain suku Batak Toba yang menggunakan Ulos, kain Ulos juga digunakan oleh rumpun Batak lainnya, hanya saja memiliki nama-nama yang berbeda, tapi pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dalam adat-istiadat rumpun Batak.

Ulos merupakan suatu simbol, persatuan, kasih sayang dan restu, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya "ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama". Suatu pepatah yang sangat indah.

Secara umum, ulos merupakan penghangat bagi tubuh dan melindungi dari udara dingin. Mengingat bahwa bangsa Batak pada umumnya hidup di daerah pegunungan yang berhawa dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada 3 sumber yang memberi kehangatan, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Ulos, adalah suatu hal yang unik pada suku Batak, karena kain dan motif ulos sepertinya telah mereka gunakan sebelum kehadiran bangsa-bangsa Batak di tanah Sumatra. Karena kain-kain yang menyerupai ulos juga ditemui digunakan oleh suku-suku di Indochina, seperti suku Karen, dan beberapa suku di Indochina lainnya, dan juga suku-suku di Formosa, dan beberapa suku di Yunnan China Selatan serta beberapa suku di India Selatan. Budaya dan tradisi ulos, sepertinya telah menjadi suatu tradisi dari tanah asal nenek moyang rumpun Batak, yang merupakan suku bangsa Austronesia Purba, yang tersebar ke beberapa wilayah di Asia, dengan tetap mempertahankan tradisi ulos mereka. Beberapa suku di Indonesia juga masih terlihat kesan ulos Austronesianya, hanya saja sudah tergantikan dengan bahan kain yang berbeda, lebih lembut, seperti kain sutra dan lain-lain, hanya saja beberapa motif aslinya masih bisa dilihat. Beberapa suku di Indonesia juga ada yang memakai kain mirip ulos, yang tentunya memiliki istilah dan nama yang berbeda, seperti suku-suku di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Dalam masyarakat suku Batak Toba, Ulos, memiliki arti penting ketika ia mulai dipakai oleh tetua-tetua adat dalam pertemuan-pertemuan adat resmi. Ditambah lagi dengan kebiasaan para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau pemberian kepada orang-orang yang mereka sayangi.

Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.

Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi berarti memberikan ulos, yang bukan sekadar pemberian hadiah biasa, karena Mangulosi mengandung arti yang cukup dalam melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Dalam ritual mangulosi, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak". Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada orang yang dihormati yang sedang berkunjung, atau kepada seorang pemimpin dengan harapan dapat menyelesaikan tugas sebagai abdi negara dengan baik dan penuh kasih sayang kepada rakyatnya.
Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.

Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi 2 bagian:
  • Ulos Na Met-met;
    ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.
  • Ulos Na Balga;
    adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Biasanya ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara dililithon; dililitkan di kepala atau di pinggang.

Harga Ulos dengan motif dan proses pembuatan sederhana relatif murah. Ulos kelas ini bisa dibeli dengan harga berkisar antara Rp. 25.000 sampai Rp. 250.000 bahkan lebih. Sementara untuk ulos kelas atas dengan kualitas bahan yang baik dan proses pembuatan yang lebih rumit, bisa diperoleh dengan harga berkisar antara Rp. 250.000 an hingga Jutaan rupiah. Contohnya Ulos khas Batak yang digunakan pengantin laki-laki pada upacara pernikahan adat Batak, dihargai Rp. 7,5 juta.

Jenis Ulos:
1. Ulos Ragidup





ulos ragidup




 

2. Ulos Ragidup Silinggom





ulos ragidup silinggom






3. Ulos Ragidup Silindung




ulos ragidup silindung






4. Ulos Bintang Marotur (Ulos Maratur)





ulos bintang marotur







5. Ulos Godang (Ulos Sadum Anggola)





ulos godang







6. Ulos Ragi Hotang





ulos ragi hotang







7. Ulos Sitolu Tuho





ulos sitolu tuho







8. Ulos Bolean





ulos bolean







9. Ulos Sibolang





ulos sibolang







10. Ulos Mangiring





ulos mangiring







11. Ulos Sadum





ulos sadum




  

12. Ulos Suri-Suri





ulos suri-suri




 

13. dan lain-lain


Pemakaian Ulos, biasanya dilakukan sebagai berikut:
  • Siabithononton (dipakai di badan),
    yaitu Ulos Ragidup, Ulos Sibolang, Ulos Ragi Pangko, Runjat, Djobit, Simarindjamisi.
  • Sihadanghononton (dililit di kepala atau bisa juga ditenteng),
    yaitu Ulos Sirara, Ulos Sadum, Ulos Sumbat, Ulos Bolean, Mangiring, Surisuri.
  • Sitalitalihononton (dililit di pinggang),
    yaitu Ulos Tumtuman, Mangiring, Padangrusa.

sumber: sukmaabdiprakasa: sejarah kain ulos

sumber foto: 

Share/Bookmark

No comments:

Post a Comment