Suku Gayo Deret

Suku Batak Gayo Deret, atau Gayo Linge, merupakan salah satu sub-etnis dari suku Gayo yang menetap di daerah Linge di kabupaten Aceh Tengah provinsi Aceh. Populasi orang Gayo Deret diperkirakan sekitar 8000 orang pada sensus tahun 2010.

Orang Gayo Deret berbicara dalam bahasa Gayo, tapi bahasa Gayo yang mereka ucapkan memiliki dialek yang agak berbeda dengan kelompok puak (sub-etnis) Gayo lainnya. Bahasa Gayo Deret/ Linge walaupun memiliki perbedaan dialek dengan puak (sub-etnis) Gayo lainnya, seperti Gayo Lut (di kabupaten Bener Meriah dan sebagian Aceh Tengah), Gayo Lues/Belang (kabupaten Gayo Lues)  serta Gayo Lukup/Serbejadi (di Aceh Timur dan Gayo Kalul di Aceh Tamiang tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
 
Umah Pitu Ruang
Umah Pitu Ruang di Buntul Linge
(Rumah Adat Gayo Linge)
Orang Gayo Deret mengamalkan adat istiadat serta budaya yang tidak jauh berbeda dengan puak Gayo yang lain. Hanya terdapat perbedaan istilah saja dalam penyebutan beberapa istilah dalam budaya dan adat-istiadat mereka. Istilah "deret" tidak diketahui berasal dari mana, tapi dari penuturan orang tua-tua dari masyarakat Gayo Deret, bahwa istilah "deret" adalah berasal dari nama seseorang yang dahulunya diberi tugas oleh sang Raja mereka untuk memelihara seluruh jenis binatang yang berada di wilayah adat mereka ini. Sedangkan istilah "linge" berasal dari kata "lenge", dalam bahasa Gayo, "linge" berarti  “suaranya”. Setelah masa kemerdekaan daerah Linge lebih dikenal dengan sebutan Gayo Deret. Linge adalah nama sebuah kampung dan juga salah satu nama kecamatan di kabupaten Aceh Tengah, dengan ibukota Isaq. Kampung Linge memiliki 3 dusun, yaitu Kawe Tepat, Pengkudu dan Buntul dengan penduduk sekitar 100 KK.

Daerah pemukiman orang Gayo Deret di Linge, adalah daerah perbukitan (80% wilayahnya ditumbuhi Pinus Merkusi), sehingga merupakan daerah yang asri. Namun daerah Gayo Deret yang berada di perbukitan, tapi udaranya tidak sedingin di Takengon dan Bener Meriah.

makam Raja Linge dan istri,
di kampung Linge, kec. Linge,
Aceh Tengah
(pic: Alfazri, Kompasiana)
Di daerah ini dahulunya pernah berdiri sebuah kerajaan besar sekitar abad X, yang bernama Kerajaan Linge (Kerajaan Lingga) sekitar tahun 1025M. Kerajaan Linge ini adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada masa jauh sebelum ada Kerajaan Aceh Darussalam yang sultan pertamanya Meurah Johan merupakan anak keturunan Raja Linge yang pertama, yaitu Adi Genali. Konon, orang Gayo lah pemeluk Islam pertama di wilayah provinsi Aceh ini. Selain itu menurut orang Gayo Deret, bahwa orang-orang Gayo pertama sekali berasal dari daerah Linge, kemudian menyebar ke berbagai daerah di luar Linge. Seperti dalam pepatah Gayo, Keasalan Linge terungkap dalam pepatah Gayo, “Asal Linge Awal Serule” dan menurut Kekeberen (Tradisi lisan).
Sesuatu yang menarik terjadi baru-baru ini di Tanoh Linge, pada 28 Januari 2013 di Umah Pitu Ruang Buntul Linge, telah mengukuhkan Iklil Ilyes Leube sebagai Pemangku Reje Linge XVIII. Menurut keterangan, bahwa pengukuran Reje Linge ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat Linge Raya meliputi kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Kalul di kabupaten Tamiang dan Lukup Serbejadi di Aceh Timur. Dengan ini berarti Kerajaan Linge memiliki seorang Reje kembali.
Gayo akhirnya punya raja Linge lagi. Dan ini terjadi Senin 28 Januari 2013 bertempat Umah Pitu Ruang Buntul Linge Iklil Ilyes Leube dikukuhkan sebagai pemangku Reje Linge ke-XVIII.
Pengukuhan ini dihadiri oleh masyarakat,  akademisi, ketua dan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Menurut keterangan Fauzan Azima selaku penyelenggara di Buntul Linge kepada Lintas Gayo, Senin (28/01/2013), pengukuhan Reje Linge ini sudah lama digagas oleh akademisi, seluruh ketua KPA kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah dan Aceh Tenggara.
“Pengukuhan ini bertujuan hanya untuk mermpersatukan masyarakat Linge Raya meliputi kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Kalul di kabupaten Tamiang dan Lukup Serbejadi di Aceh Timur,” kata Fauzan Azima
- See more at: http://www.lintasgayo.com/33955/fauzan-azima-pengukuhan-reje-linge-untuk-satukan-masyarakat-gayo.html#sthash.aqluN9j1.dpuf
Linge | Lintas Gayo – Gayo akhirnya punya raja Linge lagi. Dan ini terjadi Senin 28 Januari 2013 bertempat Umah Pitu Ruang Buntul Linge Iklil Ilyes Leube dikukuhkan sebagai pemangku Reje Linge ke-XVIII. - See more at: http://www.lintasgayo.com/33955/fauzan-azima-pengukuhan-reje-linge-untuk-satukan-masyarakat-gayo.html#sthash.TckMRUpM.dpuf

Kehidupan yang semakin berkembang dalam masyarakat Gayo Deret dari tahun ke tahun semakin menunjukkan eksistensi mereka sebagai orang Gayo di tengah budaya mayoritas suku Aceh di provinsi Aceh. Menurut cerita di masa lalu, konon orang Gayo Deret kalau berhubungan dengan masyarakat lain biasanya mengaku sebagai orang Aceh, karena kalau menyebut "dari Gayo", kuatir orang tidak tahu apa itu "orang Gayo". Tapi kini, orang Gayo Deret telah percaya diri untuk menyebut diri sebagai orang Gayo Deret.

beberu (para perempuan)
sedang menumbuk padi
Dalam kehidupan keseharian, orang Gayo Deret pada umumnya juga hidup pada pertanian padi sawah dan perladangan. Dalam perkembangannya, mereka juga mencoba mengembangkan pola pertanian mereka pada tanaman keras seperti kopi dan kakao, sedangkan tanaman khas di wilayah Gayo Deret adalah kemili (kemiri). Selain pertanian, masyarakat Linge juga dikenal sebagai peternak hewan, khususnya kerbau.

referensi:
>  http://protomalayans.blogspot.com/2012/08/suku-gayo-deret.html
>  http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/20/linge-negeri-asal-orang-gayo-575099.html
>  http://winaan.blogspot.com/2011/02/sejarah-singkat-gayo.html 
>  http://voice-of-linge.blogspot.com/
Read More...

Suku Gayo Lut


danau Lut Tawar,
pemukiman orang Gayo Lut
(wikipedia.org)
Suku Batak Gayo Lut, atau Gayo Laut, adalah suatu kelompok masyarakat yang merupakan salah satu sub-etnik suku Batak Gayo yang mendiami daerah pesisir danau Lut Tawar (indonesia: Laut Tawar). kabupaten Aceh Tengah provinsi Aceh.

Istilah Gayo Lut, muncul karena sejak dahulu sekelompok etnik Gayo hidup menyebar dan menempati wilayah pesisir sekitar danau Lut Tawar, oleh karena itu lah mereka disebut sebagai orang Gayo Lut. Sebutan bagi orang Gayo Lut, kadang disebut juga sebagai Gayo Laut.

Read More...

Suku Gayo Lues

baju adat Gayo Lues
(fb:samandance)
Suku Batak Gayo Lues, merupakan salah satu puak atau sub-etnik dari suku Batak Gayo, yang berada di kabupaten Gayo Lues dan beberapa daerah di Aceh Tenggara, juga terdapat komunitas kecil di kabupaten Aceh Selatan provinsi Aceh.

Suku Gayo Lues terkonsentrasi di kabupaten Gayo Lues, yang berada di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayah adat mereka berada di area Taman Nasional Gunung Leuser yang terisolasi di provinsi Aceh.

Orang Gayo Lues berbicara dalam bahasa Gayo, yang memiliki perbedaan dialek dengan puak-puak Gayo lainnya. Karena wilayah adat mereka agak terpisah dengan etnis Gayo lainnya, menyebabkan dialek bahasa mereka sedikit , oleh karena itulah orang Gayo yang berada di kabupaten Gayo Lues disebut sebagai Gayo Lues.

Suku Gayo sendiri terdiri dari beberapa puak, yaitu:
  • Gayo Lues
  • Gayo Deret
  • Gayo Lukup (Serbejadi)
  • Gayo Lut 
  • Gayo Kalul
    dan
  • Gayo Bebesen (Batak 27)


tari Utih Roda, Gayo Lues
Tradisi, budaya dan adat istiadat suku Gayo Lues hampir tidak ada perbedaan dengan puak-puak Gayo lainnya.
tari Saman, Gayo Lues
Secara mayoritas masyarakat suku Gayo Lues, adalah pemeluk agama Islam, yang menurut beberapa versi di Aceh, dikatakan dibawa oleh orang Aceh dan Minangkabau ke wilayah ini. Tapi menurut orang Gayo sendiri, bahwa agama Islam lebih dahulu masuk dan berkembang di wilayah Gayo dari pada masyarakat Aceh nya sendiri. Masyarakat suku Gayo Lues adalah penganut Islam yang taat. Beberapa tradisi dan kebudayaan orang Gayo Lues banyak mendapat pengaruh unsur Islami.

Orang Gayo adalah orang yang ramah terhadap pendatang. Walaupun mereka hidup terisolasi di daerah pegunungan, tapi mereka membuka diri bagi para pendatang, tidak bersikap "anti pendatang" seperti kebanyakan suku-suku di daerah lain di Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya para pendatang dari luar wilayah mereka yang memasuki Taneh Gayo Lues.

Pada umumnya masyarakat suku Gayo Lues hidup pada pertanian, seperti tanaman padi sawah, juga tanaman sayur-sayuran, seperti cabe merah, serai wangi dan kentang. Juga beberapa tanaman keras menjadi kegiatan mereka, seperti kakau, tembakau dan kopi Arabica.

referensi:
http://protomalayans.blogspot.com/2012/08/suku-gayo-lues.html
https://www.facebook.com/Samandance?v=feed&story_fbid=190316244306
Read More...

Suku Batak Gayo

orang Gayo
Suku Gayo adalah suatu komunitas masyarakat adat yang terdapat di daerah dataran tinggi Gayo di provinsi Nanggroe Aceh, terkonsentrasi di kota Takengon, kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues serta 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Masyarakat suku Gayo juga tersebar di beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Orang Gayo secara fisik, bahasa dan budaya tidak sama dengan masyarakat suku Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi Nanggroe Aceh, melainkan justru berkerabat dengan masyarakat etnik Batak dari provinsi Sumatra Utara, seperti suku Batak Karo, Batak Pakpak dan beberapa etnik yang masih dalam ras Batak yang juga berada di provinsi Nanggroe Aceh, seperti suku Alas, Singkil dan Kluet. Orang Gayo menyebut wilayah adat mereka sebagai Tanoh Gayo.

kuburan orang Gayo pra Islam
Sebelum agama Islam masuk dalam kalangan masyarakat Gayo, dahulu orang Gayo memiliki agama tradisional suku yang beberapa peninggalan agama tradisional tersebut masih bisa ditemukan di Tanah Gayo. Saat ini agama tradisional suku tersebut telah ditinggalkan seiring dengan berkembangnya agama Islam di Tanah Gayo.

Pada umumnya masyarakat suku Gayo mayoritas adalah beragama Islam. Agama Islam berkembang sejak beberapa abad yang lalu di kalangan masyarakat suku Gayo. Menurut orang Gayo agama Islam lebih dahulu berkembang di Tanah Gayo dari pada di kalangan masyarakat Aceh sendiri.  Beberapa adat istiadat dan tradisi Gayo mendapat pengaruh dari budaya Islam. Terlihat budaya dan tradisi Islam sangat menonjol dalam setiap kegiatan dan acara pada masyarakat suku Gayo.

Orang Gayo memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Gayo yang digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di antara kalangan mereka, selain itu orang Gayo juga biasanya bisa berbicara dalam bahasa Aceh yang menjadi bahasa mayoritas di provinsi Nanggroe Aceh.

Para peneliti sempat mengelompokkan suku Gayo dalam kelompok Rumpun Batak, walau orang Gayo nya sendiri mungkin tidak merasa sebagai orang Batak. Ditinjau dari kekerabatan bahasa, struktur fisik, perilaku, kebiasaan hidup, tradisi, budaya, marga dan sejarah masa lalu, (dan mungkin kesamaan gen, hanya belum dilakukan penelitian), memiliki kekerabatan yang kuat dengan kelompok etnik batak lainnya. Kerabat terdekat suku Gayo adalah suku Alas, Singkil dan Kluet.

Suku Gayo sendiri terdiri dari beberapa puak, yang menggunakan bahasa, adat istiadat dan tradisi yang sama, dan hanya dibedakan dari dialek, yaitu:
  • Gayo Lut (sekitar danau Laut Tawar)
  • Gayo Deret
  • Gayo Lues (Luwes)
  • Gayo Serbejadi (Lukup)
  • Gayo Kalul
    dan 
  • Gayo Bebesen (Batak 27)

Di Tanoh Gayo sekitar abad 11 Masehi berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Linge (Lingga) yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. (dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda).
Raja Lingga I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah) dan Meurah Lingga (Malamsyah).
Sebayak Lingga kemudian merantau ke Tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan Kesultanan Syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Masyarakat Gayo hidup dalam komunitas kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari:
  • Reje
  • Petue
  • Imem
  • Rayat

Saat ini beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan yang terdiri atas:
  • gecik
  • wakil gecik
  • imem
  • cerdik pandai yang mewakili rakyat.

rumah tradisional Gayo
rumah adat Gayo
Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok klan (belah/ marga). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Orang Gayo juga menerapkan sistem marga yang diturunkan kepada generasi berikutnya melalui pihak laki-laki. Sebagian besar masyarakat suku Gayo tidak mencantumkan nama marganya, tetapi sebagian kecil masih ada yang mencantumkan nama marganya, seperti yang bermukim di wilayah Bebesen. Identitas marga bagi masyarakat suku Gayo mungkin tidak se"penting" seperti masyarakat etnis Batak lainnya. Tapi sebagian kecil masih mempertahankan identitas marganya, untuk membedakan mereka dengan masyarakat di luar suku Gayo.

Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).
Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah Rumah Panjang, sehingga disebut Sara Umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen). Pada masa sekarang telah banyak mengalami perobahan kebiasaan, sehingga banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri.

Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, adalah:

Tari Guel
(tanohaceh.com)
tari Saman 
(nakarasido.com)
  • Tari Saman
  • Didong (seni bertutur)
  • Tari Bines
  • Tari Guel
  • Tari Munalu
  • Sebuku (Pepongoten)
  • Guru Gidong
  • Nelengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa.
Bentuk-bentuk kesenian di atas mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat.

Makanan khas Gayo adalah
  • Masam Jaeng
  • Gutel
  • Lepat
  • Pulut Bekuah
  • Cecah
  • Pengat

Masyarakat suku Gayo pada umumnya hidup pada bidang pertanian, terutama pada tanaman padi sawah dan tanaman kopi. Selain itu mereka juga menanam berbagai jenis sayuran, memelihara hewan ternak serta memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

referensi:
>  http://protomalayans.blogspot.com/2011/08/suku-gayo.html 
>  http://tanohaceh.com 
>  http://nakarasido.com

info tambahan:
>  marga Gayo
>  kamus bahasa Gayo
Read More...

Suku Batak 27 (Batak Bebesen)

wilayah Bebesen (aceh.tribunnews.com)
Suku Batak 27, atau disebut juga sebagai suku Batak Bebesen, merupakan suatu komunitas masyarakat yang berasimilasi dengan adat istiadat suku Batak Gayo. Suku Batak 27 ini, konon dahulu berasal dari tanah Batak Utara yang bermigrasi ke wilayah Tanah Gayo. Komunitas suku Batak 27 bermukim di kecamatan Bebesen, di Takengon yang termasuk wilayah adat suku Gayo Lut. Karena mereka bermukim di wilayah Bebesen, oleh masyarakat suku Gayo, mereka disebut suku Batak Bebesen atau sebagai suku Batak Gayo Bebesen.

Dahulu banyak orang Batak dari tanah Utara datang ke Tanah Gayo dengan bermacam-macam cara, yang kini bermukim di sebelah barat Danau Laut Tawar, Pengasingan serta Celala, sekarang keturunannya tidak dapat dibedakan lagi dengan masyarakat suku Gayo Lut. Akan tetapi, ada satu kenangan yang masih melekat dalam benak orang Gayo, yaitu yang terjadi terhadap anak buah Reje Cik Bebesan dan Ketol. Seterusnya adalah pada keturunan salah seorang Reje yang terkemuka di Tanah Gayo yang mendiami bagian timur daerah aliran sungai Jemer yaitu, Reje Linge. Orang Gayo yang dimaksud ialah orang Gayo Bebesen yang berdiam di bagian barat Danau Laut Tawar yang kalau bertengkar dengan kampung tetangganya sering diejek Batak Bebesan atau Batak 27.

Dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan tentang seorang yang bernama Lebe Keder, yang datang untuk menuntut bela kematian kawannya yang meninggal karena dibunuh dan hartanya dirampok. Ketika itu, sebanyak 20 orang Batak dari tanah utara, yang salah satunya bernama Lebe Keder, lewat Alas dan Tanah Gayo, berangkat menuju Aceh. Selain untuk ongkos dan belanja sendiri, mereka juga membawa titipan ongkos untuk pulang bagi 7 teman mereka. Melihat pundi-pundi penuh dengan uang, timbul niat jahat dalam hati salah seorang raja Gayo, yaitu Reje Bukit, yang memerintah di bagian barat Danau Laut Tawar yang mengajaknya bermain judi.

Ternyata, pada waktu itu, Reje Bukit bernasib sial. Dia kalah dan mau tidak mau harus merelakan sebagian kekayaannya berpindah ke dalam pundi-pundi orang Batak Utara tadi. karena dihantui oleh perasaan marah, kesal, malu dan iri, Reje Bukit nekad memancung salah seorang di antara mereka, lalu menggantungkan kepalanya di atas sebatang pohon bambu tidak jauh dari Bebesen. Karena itulah tempat itu disebut Pegantungan sampai saat ini. Ke 19 orang-orang Batak Utara pun terkejut dan menghindar menuju Aceh untuk menemui kawan-kawannya, sekaligus bermaksud untuk mengadukan kezaliman Reje Gayo tersebut kepada raja Aceh. Sultan memberi mereka restu untuk memerangi Reje Gayo itu dan yakin bahwa mereka akan dapat mengalahkannya, tetapi Reje Bukit sendiri tidak boleh dibunuh.

Pada serangan balasannya, ke 26 orang dari Batak Utara ini mengalahkan pasukan Reje Bukit. Reje Bukit sendiri, dalam keadaan panik, melarikan diri dan tersesat ke dalam suatu paya (rawa-rawa) dekat kampung Kebayakan, sehingga tempat itu disebut Paya Reje sampai saat ini. Setelah itu dibuatlah perjanjian yang menyatakan bahwa Reje Bukit bersama anak buahnya ditunjuk untuk menempati kampung Kebayakan sekarang dan ke-26 orang Batak Utara tersebut, menempati wilayah yang sekarang menjadi kampung induk Raja Cik, yaitu kampung Bebesen. Di tempat ini mereka berkembang dan keturunannya disebut sebagai suku Batak Bebesen atau suku Batak 27.

Dalam masyarakat suku Batak 27 ini tradisi marga tetap dipertahankan hingga saat ini. Marga-marga tersebut adalah Munthe, Cibero, Melala, Lingga dan Tebe.

sumber:
  • protomalayans
  • rajabatak2.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
 foto:
  • aceh.tribunnews.com
Read More...

Marga Gayo

Suku Gayo, salah satu etnis yang hidup di provinsi Aceh, yang terkonsentrasi di kota Takengon juga memiliki marga. Walaupun sebagian besar masyarakat suku Gayo tidak mencantumkan nama marganya, tetapi sebagian kecil masih ada yang menabalkan atau mencantumkan nama marga-marganya, terutama yang bermukim di wilayah Bebesen.

Read More...