Suku Batak Pakpak

Suku Batak Pakpak, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di beberapa kabupaten di provinsi Sumatra Utara dan di sebagian wilayah provinsi Nanggroe Aceh.

suku Batak Pakpak (gkppd)
Orang Batak Pakpak, berbicara dalam bahasa sendiri, yaitu bahasa Pakpak. Sedangkan di Kelasen bahasa Pakpak disebut sebagai bahasa Dairi. Bahasa Pakpak ini merupakan cabang dari rumpun bahasa Austronesia, yang termasuk dari salah satu cabang dari rumpun bahasa Batak. Bahasa Batak Pakpak memiliki kekerabatan dengan bahasa Batak Karo, tapi bahasa Pakpak juga banyak mirip dengan bahasa Batak Toba. Pemakai bahasa Pakpak sendiri mengalami penurunan diakibatkan banyaknya arus pendatang di luar suku Pakpak yang memasuki wilayah mereka. Para generasi muda semakin enggan menggunakan bahasa Pakpak dalam pergaulan sehari-hari. Perkawinan dengan suku di luar suku Pakpak, serta pengaruh bahasa-bahasa dari para pendatang turut mempengaruhi kelestarian bahasa Pakpak. Sepertinya hal ini perlu mengalami perubahan yang berarti agar bahasa Pakpak tidak hilang di daerahnya sendiri. Dalam bahasa Batak Pakpak ada suatu ucapan khas, yaitu "Njuah-Njuah", yang berarti "semoga sehat selalu".

Masyarakat suku Batak Pakpak secara tradisional wilayahnya disebut sebagai Tanoh Pakpak. Tanoh Pakpak secara adat terbagi atas lima wilayah adat, yaitu:
  • Simsim (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Keppas (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Pegagan (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Kelasen (di kecamatan Parlilitan kabupaten Humbang Hasundutan dan kecamatan Manduamas dan Barus kabupaten Tapanuli Tengah)
  • Boang (di kabupaten Aceh Singkil dan kota Subulussalam)
Ke 5 wilayah di atas secara tradisional disebut sebagai Tanoh Pakpak, yang walaupun berbeda wilayah, tapi secara tradisional adat pada dasarnya tidak terpisah satu sama lain, selain itu semua daerah administrastifnya masih berbatasan langsung.

Dalam masyarakat suku Batak Pakpak, terdiri dari 2 kesatuan komunitas terkecil, yaitu:
  • Lebuh merupakan bagian dari kuta yang dihuni oleh klan kecil
  • Kuta adalah gabungan dari lebuh-lebuh yang dihuni oleh suatu klan besar (marga) tertentu.
Jadi setiap lebuh dan kuta dimiliki oleh klan atau marga tertentu dan dianggap sebagai penduduk asli, sementara marga di luar marga dikategorikan sebagai pendatang.
Sistem kekerabatan orang Batak Pakpak menganut prinsip patrilineal dalam memperhitungkan garis keturunan dan pembentukan klan (kelompok kerabatnya) yang disebut marga. Dengan demikian berimplikasi terhadap sistem pewarisan dominan diperuntukkan untuk anak laki-laki saja. Bentuk perkawinannya adalah exogami marga, artinya seseorang harus kawin di luar marganya dan kalau kawin dengan orang semarga dianggap melanggar adat karena dikategorikan sumbang (incest).

Selain kelompok masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai suku Batak Pakpak di wilayah ini, sebenarnya terdapat suatu komunitas lain yang menyebut diri mereka sebagai suku Batak Dairi. Tapi menurut orang Pakpak bahwa orang Dairi itu adalah orang Pakpak juga, karena menurut orang Pakpak istilah Dairi adalah nama pemberian dari Pemerintah Hindia Belanda pada saat berkuasa di Tanoh Pakpak, yaitu "Dairi Landen" atau Tanah Dairi. Menurut penuturan cerita sejarah di Pakpak dijelaskan Tanoh Pakpak dibagi-bagi dalam berbagai wilayah oleh Hindia Belanda sehingga melumpuhkan perjuangan Raja Sisingamangaraja XII yang pusat perjuangannya di Pearaja dan beberapa daerah lainnya di Tanoh Pakpak.
Daerah administrasi Dairi Landen dipisahkan dari daerah-daerah wilayah masyarakat Pakpak lainnya misalnya:
  • Parlilitan (Humbang Hasundutan),
  • Tongging (Karo),
  • Boang (Aceh Singkil dan Subulussalam)
  • Barus – Manduamas (Tapanuli Tengah). 
Beberapa suak Pakpak menerima penggunaan kata Pakpak sebagai nama induk suku, tapi beberapa suak lain lebih memilih menggunakan kata Dairi sebagai nama induk suku. Oleh karena itu dalam pengucapan lebih sering diucapkan sebagai Pakpak Dairi, seperti penamaan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), ataupun nama-nama organisasi/kumpulan orang Pakpak sering memakai kata Pakpak Dairi.

Dalam beberapa tulisan di media internet, beberapa penulis asal Pakpak kurang setuju kalau orang Pakpak dikelompokkan menjadi sub etnis Batak yang terdiri dari Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing dan Batak Angkola. Menurut mereka orang Pakpak berbeda dengan etnis Batak lainnya. Saat ini belum ada penelitian yang bernilai ilmiah yang dapat diterima sebagai suatu fakta umum (opinion doctorum) apakah Pakpak itu sub etnis Batak atau merupakan etnis yang berdiri sendiri.

Sebagian kecil orang Pakpak menyatakan terdapat perbedaan konsep antara orang Pakpak dengan etnis Batak lain. Seperti misalnya kepercayaan asli orang Batak Toba yang percaya kepada Debata Mulajadi Na Bolon yang ternyata tidak dikenal dalam tradisi orang Pakpak. Selain itu, konsep Dalihan Natolu juga tidak ada dalam masyarakat Pakpak.
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, ternyata justru persamaannya sangat banyak sekali antara orang Pakpak dengan etnis-etnis Batak lainnya. Misalnya konsep exogami marga dalam perkawinan, konsep patrilineal dalam pewarisan, konsep marga-marga dan persaudaraan marga serta kearifan tradisional dalam pengelolaan lingkungan. Juga, kemiripan pada bahasa, karakter, adat istiadat, budaya, rumah adat, struktur fisik dan lain-lain banyak lagi. Jadi mungkin kalau orang Pakpak tidak mau disebut sebagai sub-suku Batak, mungkin lebih bijaksana kalau disebut sebagai salah satu Rumpun Batak saja.

Asal Usul
Belum ada penelitian yang menjelaskan secara pasti tentang asal usul orang Pakpak. Tapi ada beberapa versi yang coba menjelaskan tentang asal usul orang Pakpak, walaupun masih berbau spekulasi. Salah satunya adalah mengatakan bahwa orang Pakpak berasal dari India, ketika pedagang-pedagang dari India mendarat di pantai Barus dan daerah pantai Singkil, yang masuk ke pedalaman sepanjang daerah Pakkat sampai ke Singkil dan beranak pinak menjadi orang Pakpak. Alasannya adalah bahwa adanya kebiasaan tradisional orang Pakpak dalam pembakaran tulang-belulang nenek moyang dan Barus sebagai daerah pantai dan pusat perdagangan berbatasan langsung dengan Tanoh Pakpak.

Versi lain, mengatakan bahwa orang Pakpak berasal dari orang Batak Toba yang merantau ke Tanoh Pakpak. Alasannya karena banyaknya kesamaan struktur sosial dan kemiripan marga-marga antara orang Pakpak dengan orang Batak Toba.

Versi ketiga, dikatakan bahwa orang Pakpak sudah ada sejak zaman dahulu kala, sebelum hadirnya etnis-etnis Batak lainnya. Alasannya didasarkan pada suatu cerita rakyat, dimana diceritakan adanya 3 zaman manusia di Tanoh Pakpak, yakni:
  • Zaman Tuara (manusia raksasa)
  • Zaman si Aji (manusia primitif)
  • Zaman manusia (homo sapien).
Satu hal yang pasti umur masyarakat Pakpak itu hingga saat ini belum dapat ditentukan karena penemuan-penemuan bekas bekas tulang-belulang yang dibakar dan mejan-mejan (patung batu) menunjukkan bahwa orang Pakpak menurut dugaan mungkin ada sejak Zaman Batu.

Menurut pendapat lain, nenek moyang orang Pakpak diperkirakan awalnya masuk ke Tanah Karo dan menetap disana. Ini dibuktikan dengan adanya kedekatan bahasa antara suku Karo dan Pakpak, demikian juga dengan adanya marga Cibro (Sibero di Karo), Maha, Lingga (Sinulingga di Karo), dan lain-lain. Hal tersebut juga dibenarkan oleh cerita orang Karo bahwa Ginting Sini Suka menurut cerita lisan Karo berasal dari Kelasen (Pakpak) berasal dari Lingga Raja di Pakpak. Sementara itu ada juga marga-marga Pakpak yang berasal dari Toba menetap di Tanoh Pakpak dan menjadi Raja Kuta seperti marga Kabeaken dari Habeahan (Pasaribu), marga Lembeng (Limbong), Sagala, Kaloko (Haloho), dan lain-lain.

Menurut para peneliti, sejak masa ribuan tahun sebelum masehi, daratan Sumatra memang telah dihuni oleh manusia batak purba. Awalnya mereka hidup dalam satu komunitas, tapi karena mereka memiliki kebiasaan hidup secara nomaden, seiring waktu, puluhan, ratusan bahkan sampai ribuan tahun, mereka pun tersebar-sebar dan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah. Kemungkinan beberapa kelompok terjadi perkawinan campur dengan para pendatang yang mungkin dari India atau pendatang dari daratan Indochina. Maka terbentuklah komunitas-komunitas tersendiri dengan identitas mereka sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Tapi walaupun telah terpisah-pisah selama ribuan tahun dan mengalami proses perubahan dalam tata cara, tradisi, budaya bahkan bahasa dan lain-lain, dan masing-masing menyatakan berbeda satu sama lain, tapi tetap masih bisa ditarik garis kesamaan di antara mereka semua, yang menunjukkan bahwa mereka semua adalah saudara serumpun.

Orang Batak Pakpak diklasifikasikan dalam 5 suak (sub-suku) berdasarkan dialek:
  • Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Simsim meliputi wilayah Salak, Situje, Situju, Kerajaan, Pergetteng-getteng Sengkut, Tinada dan Jambu.
    Marga-marganya yaitu Berutu, Padang, Solin, Cibro, Sinamo, Boang Manalu, Manik, Banurea, Sitakar, Kabeaken, Lembeng, Tinendung dan lain-lain.
  • Pakpak Keppas, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di wilayah Sidikalang, Siteelu Nempu, Siempat Nempu, Silima Pungga-Pungga, Tanoh Pinem, Parbuluan, Lae Hulung.
    Marga-marganya yaitu Angkat, Bintang, Capah, Ujung, Berampu, Pasi, Maha, dan lain-lain.
  • Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Pegagan meliputi Sumbul, Tiga Baru, Silalahi, dan Tiga Lingga.
    Marga-marganya yaitu Lingga, Matanari, Maibang, Kaloko, Manik Sikettang, dan lain-lain.
  • Pakpak Kelasen (Klasen), yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Kelasen meliputi wilayah Parlilitan, Pakkat, Barus dan Manduamas.
    Marga-marganya yaitu Tinambunan, Tumangger, Turuten, Maharaja, Pinayungen, Anak Ampun, Berasa, Gajah, Ceun, Meka, Mungkur, Kesogihen dan lain-lain.
  • Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Boang meliputi Aceh Singkil yakni Simpang Kiri, Simpang Kanan, Lipat Kajang dan Kota Subulussalam.
    Marga-marganya yaitu Saraan, Sambo, Bancin, Kombih, Penarik, dan lain-lain.

Marga-marga Pakpak, secara keseluruhan:
Anak Ampun, Angkat, Bako, Bancin, Banurea, Berampu, Berasa, Berutu, Bintang, Boang Manalu, Capah Cehun, Cibro, Cibero Penarik, Gajah, Gajah Manik, Goci, Kaloko, Kabeaken, Kesogihen, Kombih, Kudadiri, Kulelo, Lembeng, Lingga, Maha, Maharaja, Manik, Manik Sikettaang, Manjerang, Matanari, Meka, Mucut, Mungkur, Munte, Padang, Padang Batanghari, Pasi, Pinayungen, Simbacang, Simbello, Simeratah, Sinamo, Sirimo Keling, Solin, Sitakar, Sagala, Sambo, Saraan, Sidabang, Sikettang, Simaibang, Tendang, Tinambunan, Tinendung, Tinjoan, Tumangger, Turuten, Ujung.

Adat Istiadat dan Budaya
Masyarakat Pakpak mengenal hubungan Peradatan “Sulang Silima” yang agak mirip dengan “Dalihan Natolu” dalam masyarakat Toba dan “Sangkep Enggeloh/Rakut Sitellu” dalam masyarakat Karo.
Adapun unsur Sulang Silima itu adalah:
  • Sukut;
  • Dengan sebeltek Si kaka-en (saudara sekandung yang lebih tua)
  • Dengan sebeltek Si kedek-en (saudara sekandung yang lebih muda)
  • Kula-kula/ puang (kelompok pihak pengantin perempuan)
  • Berru (kelompok pihak pengantin laki-laki).

Tradisi Upacara Adat
  1. Kerja Njahat (Upacara Dukacita)
    Misalnya Upacara Kematian (males bulung simbernaik, males bulung buluh, males bulung sampula), Upacara Mengankat Tulang Belulang (mengokal tulan) dan Upacara Membakar Tulang Belulang (menutung tulan).
  2. Kerja Baik (Upacara Sukacita)
    Misalnya Upacara Kehamilan (memerre nakan pagit), Upacara Kelahiran (mangan balbal dan mengakeni), Upacara Masa Anak-Anak (mengebat, mergosting), Upacara Masa Remaja (mertakil/sunat, pendidien/baptis, meluah/naik sidi), Upacara Masa Dewasa, Upacara Perkawinan (merbayo) dan Upacara Memberi Makan Orang Tua (menerbeb).
  3. Upacara-Upacara Lain
    Misalnya Upacara Mendegger Uruk, Upacara Merintis Lahan (menoto), Upacara Memepuh Babah/Merkottas, Upacara Pembakaran Lahan (menghabani), Upacara Menjelang Penanaman Padi (menanda tahun), Upacara Mengusir Hama (mengkuda-kudai), Upacara Syukuran Panen (memerre kembaen).

Bentuk perkawinan dalam masyarakat Pakpak
  1. Sitari-tari (Merbayo atau Sinima-nima), merupakan bentuk yang dianggap paling baik atau ideal karena hak dan kewajiban pengantin laki-laki dan perempuan telah terpenuhi.
    Dalam merbayo (Upacara Perkawinan) dikenal beberapa tahapan, yaitu:
    - Mengirit/ Mengindangi (Meminang)
    - Mersiberen Tanda Burju (Tukar Cincin)
    - Mengkata Utang (Menentukan Mas Kawin)
    - Merbayo (Pesta Peresmian)
    - Balik Ulbas
  2. Sohom-sohom, upacaranya sederhana dan dihadiri keluarga terdekat saja, semua unsur adat terpenuhi tetapi secara ekonomi lebih kecil.
  3. Menama, disini pihak keluarga perempuan tidak setuju, sehingga dicari jalan lain dengan kawin lari, sehingga sebagai tanda rasa bersalah pengantin cukup membawa makanan (nakan sada mbari) sebagai tanda minta maaf dan pada suatu saat nanti mereka akan mengadati.
  4. Mengrampas, artinya mengambil paksa isteri orang lain, sanksi untuk laki-laki adalah membayar mas kawin yang tidak mempunyai batasan.
  5. Mencukung, hampir sama dengan mengrampas.
  6. Mengeke, mengawini janda dari abang atau adik laki-laki.
  7. Mengalih, seorang laki-laki mengawini janda baik bekas istri abang atau adiknya maupun istri orang lain.

Istilah Kekerabatan Ego dengan Saudara Inti dan Keluarga Sekandung (Sinina)
  • Bapa (ayah)
  • Inang (ibu)
  • Kaka/ Abang (abang)
  • Dedahen/ Anggi (adik laki-laki/ adik perempuan)
  • Turang (saudara perempuan)
  • Mpung/ Poli (kakek)
  • Mpung Daberru (nenek)
  • Patua (saudara laki-laki tertua ayah)
  • Nantua (istri dari saudara laki-laki tertua ayah)
  • Tonga (saudara laki-laki tengah ayah)
  • Nan Tonga (istri saudara laki-laki tengah ayah)
  • Papun (saudara laki-laki termuda ayah)
  • Nangampun (istri saudara laki-laki termuda ayah)
  • Inanguda (saudara perempuan ibu yang lebih muda)
  • Panguda (suami saudara perempuan ibu yang lebih muda)
  • Nan Tua (saudara perempuan ibu yang lebih tua)
  • Patua (suami saudara perempuan ibu yang lebih tua)

Istilah Kekerabatan Ego dengan kelompok Berrunya
  • Turang (saudara perempuan)
  • Silih (suami saudara perempuan/ ipar)
  • Beberre (anak saudara perempuan/ keponakan)
  • Berru (anak perempuan Ego)
  • Kela (menantu laki-laki)
  • Namberru (saudara perempuan ayah)
  • Mamberru (suami dari saudara perempuan ayah)
  • Impal (anak laki-laki saudara perempuan ayah)
  • Turang (anak perempuan saudara perempuan ayah)
  • Mamberru (mertua laki-laki saudara perempuan Ego)
  • Namberru (mertua perempuan saudara perempuan Ego)

Istilah Kekerabatan Ego dengan kelompok Puangnya:

  • Puhun (saudara laki-laki ibu)
  • Nampuhun (istri saudara laki-laki ibu)
  • Impal (anak laki-laki/perempuan saudara laki-laki ibu)
  • Sinisapo (istri Ego)
  • Silih (saudara laki-laki istri/ ipar laki-laki)
  • Bayongku (istri saudara laki-laki istri Ego)
  • Puhun (mertua laki-laki)
  • Nampuhun (mertua perempuan)
  • Kalak Purmaen (menantu perempuan)
  • Purmaen (anak saudara laki-laki istri Ego)

Pakaian tradisional adat
Pakaian adat masyarakat Pakpak cenderung berwarna hitam. Untuk laki-laki (daholi) adalah baju lengan panjang dengan kerah mirip kerah Mandarin kemudian ada garis warna merah pada ujung tangan, pada daerah kancing baju, dan pada daerah lain sebagai tambahan. Untuk penutup kepala dipakai oles (kain adat) yang mempunyai rambu (rumbai) berwarna merah atau kuning yang dibentuk seperti peci dengan rambu kearah samping depan. Celana warna hitam dengan ukuran ¾ dipakai dengan mandar (sarung) sebagai penutup celana. Biasanya laki-laki menempatkan golok (parang) di pinggang sebagai aksesoris tambahan.

Untuk perempuan memakai saong (penutup kepala) dengan bentuk “cudur” atau mengerecut ke bagian belakang. Posisi rambu olesnya berada di depan, bajunya juga berwarna hitam lengan panjang dengan hiasan payet berwarna kuning di depan, dibelakang dan dibagian ujung lengan. Untuk rok dipakai oles yang berwarna hitam dan ikat pinggang. Sebagai aksesoris tambahan pada tangan disematkan ucang-ucang (tas kecil) dan pada dada disematkan hiasan berwrna kuning keemasan.

Rumah tradisional
rumah adat Pakpak (pakpakblog)
Rumah Adat masyarakat Pakpak disebut Sapo Jojong, yaitu sebuah rumah panggung terdiri dari ijuk sebagai atap dengan atap yang bertingkat dua. Ornamen utamanya terdiri dari ukiran atau lukisan yang mirip dengan rumah adat Karo maupun Toba. Di atas pintu rumah biasanya ada gambar sepasang cicak dan payudara wanita yang melambangkan kesuburan.


Seni tari

Tari dalam Bahasa Pakpak disebut “Tatak” yang dalam Bahasa Toba disebut “Tortor” dan Bahasa Karo disebut “La‘ndek”. Tarian tradisional Pakpak sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya Tatak Memupu/ Menapu Kopi, Tatak Mendedah, Tatak Renggisa, Tatak Balang Cikua, Tatak Garo-Garo, Tatak Tirismo Lae Bangkuang, Tatak Mersulangat, Tatak Menerser Page, Tatak Muat Page, Tatak Adat, Tatak Mendedohi Takal-Takal, dan lain-lain. Selain itu, dikenal juga seni bela diri misalnya moccak dan tabbus.

Seni musik
Seni alat musik misalnya Kalondang, Genderang, Gung Sada Rabaan, Kucapi, Sordam, Lobat, Kettuk, Gerantung, dan lain-lain.
Seni vokal diantaranya odong-odong dan nangen. Selain itu, seni vokal juga sudah semakin dikembangkan sekarang ini, diantaranya lagu paling dikenal yaitu Cikala le Pong Pong, Delleng Sitinjo, Lae Une, Nan Tampuk Mas, dan lain-lain.

Sastra
Kesusastraan juga dikenal dalam adat Pakpak, terutama peribahasa dan pantun. Biasanya peribahasa berisi anjuran dan nasihat sedangkan pantun juga berisi anjuran dan nasihat meskipun ada pantun jenaka. Misalnya peribahsa yaitu "ipalkoh sangkalen mengena penggel" artinya dipukul talenan telinga terasa, maknanya yaitu untuk kita selalu menuruti, was-was dan tanggap terhadap nasihat yang berguna yang diberikan oleh orang yang lebih berpengalaman. Contoh pantun yaitu "sada lubang ni sige, sada ma ngo mahan gerrit-gerriten, tah soh mi ladang dike pe, ulang ma ngo mbernit-mberniten" artinya kemanapun kita merantau semoga tetap sehat selalu. Prosa juga lumayan berkembang ditandai dengan banyaknya cerita-cerita legenda yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi seterusnya. Contoh cerita rakyat Pakpak yaitu Cerita Simbuyak-buyak yang dikenal luas dalam masyarakat Kelasen, Cerita Nan Tampuk Mas yang dikenal masyarakat Keppas.

Kerajinan tangan
Kerajinan tangan suku Pakpak sudah dikenal sejak jaman dahulu yaitu dengan adanya Mejan Batu (sejenis patung yang terbuat dari batu) yang terdapat hampir disetiap kuta. Selain itu ada juga “membayu” yaitu menganyam tikar, bakul, kirang (keranjang) dan lain sebagainya yang terbuat dari sejenis rumput yang tumbuh di sawah. Selain itu kerajina rotan dan bambu juga banyak dikembangkan misalnya kursi, sangkar burung, bubu, tampi, juga keranjang. Kerajinan lainnya yaitu terutama di daerah Kelasen yaitu “meneppa” yaitu pandai besi terutama meneppa golok (pisau dan parang), pedang, kujur (tombak), cangkul, cuncun dan lain-lain.

Makanan khas
Jenis-jenis makanan tradisional misalnya Pelleng (ada perbedaan dalam resep dan bentuk serta penyajian dari pelleng Pegagan dan Simsim) nasi yang dilumat dengan sendok dan berwarna kuning, Ginaru Ncor, Nditak (Tepung beras dicampur kelapa parut dan gula putih lalu dikepal dengan tangan), Pinahpah (padi muda yang dipipihkan), Ginustung, Sagun-Sagun (Tepung beras yang digongseng dengan gula pasir dan kelapa parut), Sambal Jeruk (durian yang diasamkan), Ikan Bingkis, dan lain-lain.


sumber:

1 comment: