Tarombo Silahisabungan versi Silahi Raja


Versi Tarombo Silahisabungan yang ini, biasa disebut sebagai versi Silahi Raja. Versi ini kadang disebut juga sebagai Tarombo Silalahi Pangururan.

Raja Silahisabungan mempunyai 3 orang isteri.
  • istri pertama, adalah Pinta Haomasa boru Basonabolon,
    memiliki 1 putra, yaitu:
    • Silahi Raja (Silalahi)
      • Silalahi Raja Tolping
      • Silalahi Raja Bursok
      • Silalahi Raja Bungabunga (Silalahi Raja Parmahan)
  • istri kedua, adalah Pinggan Matio boru Padangbatanghari, bermukim di Silalahi Nabolak,
    memiliki 7 putra dan 1 putri, yaitu:
    • Loho Raja (Sihaloho)
    • Tukkir Raja (Situkkir, Situngkir)
    • Sondi Raja (Rumasondi)
    • Butar Raja (Sinabutar, Sidabutar)
    • Bariba Raja (Sinabariba, Sidabariba)
    • Debang Raja (Sidebang)
    • Batu Raja (Pintubatu)
  • istri ketiga, adalah Milinggiling boru Mangarerak,
    memiliki 1 putra, yaitu:
    • Raja Tambun (Tambun, Tambunan)


sumber:
silalahi.orgfree.com: terjadinya padan silalahi dengan tampubolon

terkait:
Silahisabungan Sitolu Ina: kronologis makam op rajasilahisabungan

Read More...

Tarombo Silahisabungan versi Silalahi Na Bolak


Versi Tarombo Silahisabungan yang ini, biasa disebut sebagai versi Si 7 Turpuk Sihaloho, kadang disebut juga sebagai Tarombo Silalahi Na Bolak.
Tarombo versi ini, tertera pada Laklak (aksara Batak yang tertera di kulit kayu) yang tersimpan di salah satu museum di Belanda, dan juga tertera pada Poda Sagu-sagu Marlangan (di Tugu Makam Silahisabungan di daerah Huta Silalahi Nabolak, Dairi).

Raja Silahisabungan mempunyai 2 orang isteri.
  • istri pertama, adalah Pinggan Matio boru Padang Batanghari, bermukim di Silalahi Nabolak,
    Raja Silahisabungan memiliki 7 putra dan 1 putri, yaitu:
    • Haloho (Loho Raja) -- (istri Ranimbani Boru Padang Batanghari)
      [ Haloho (Loho Raja) menikah dengan boru tulangnya Rumbani boru Padang Batanghari dan bermukim di Silalahi nabolak.Keturunannya sebagian pindah ke Paropo, Tolping, Pangururan, Parbaba. Haloho memiliki 3 putra yaitu : Sinaborno, Sinapuran, dan Sinapitu. Pada umumnya keturunannya memakai marga Sihaloho, dan hingga dewasa ini belum ada cabang marga ini. ]
      • Sinaborno
      • Sinapuran
      • Sinapitu
      • Masopang
    • Tungkir (Tungkir Raja) -- (istri Pingan Haomasan Boru Situmorang)
      [ Tungkir (Tungkir Raja) menikah dengan Pinggan Haomasan boru Situmorang dan bermukim juga di Silalahi Nabolak. Pasangan ini juga memiliki 3 putra yaitu : Sibagasan, Sipakpahan dan Sipangkar. Keturunannya pada umumnya memakai marga Situngkir terutama Sibagasan dan Sipakpahan, sedangkan keturunan Sipangkar sebagian besar telah memakai Sipangkar sebagai marga. ]
      • Sibagasan
      • Sipakpahan
      • Sipangkar
    • Rumasondi (Sondi Raja) -- (istri Siboru Nagok Boru Siboro)
      [ Rumasondi (Sondi Raja) menikah dengan Nagok boru Purba Siboro. Pasangan ini juga bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya yaitu Rumasingap membuka perkampungan di Paropo.Rumasondi memiliki putra sbb : Rumasondi, Rumasingap, dan Rumabolon. Umumnya keturunannya memakai marga Rumasondi dan sebagaian memakai marga Silalahi (di Balige) dan bahkan Rumasingap juga dipakai sebagai cabang marga. Demikian juga Doloksaribu, Nadapdap, Naiborhu, Sinurat, telah digunakan sebagai cabang marga dan masuk rumpun marga Rumasondi. ]
      • Rumasingap
      • Rumabolon
    • Dabutar (Butar Raja) -- (istri Logumora Boru Sagala)
      [ Dabutar (Butar Raja) menikah dengan Lagumora Sagala. Mereka juga tinggal di Silalahi Nabolak. Dabutar ini mempunyai tiga putra yaitu : Rumabolon, Ambuyak, dan Rumatungkup. Umumnya keturunannya memakai marga Sinabutar atau Sinamutar bahkan Sidabutar. ]
      • Rumabolon
      • Ambuyak
      • Rumatungkup
    • Dabariba (Bariba Raja) -- (istri Sahat Uli Boru Sagala)
      [ Dabariba Raja (Baba Raja) menikah dengan Sahat Uli boru Sagala. Mereka bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya memakai marga Sidabariba atau Sinabariba. Putrranya berjumlah tiga yaitu : Sidabariba Lumbantonga, Sidabariba Lumbandolok, Sidabariba Toruan. Mereka ini pada umumnya memakai marga Sidabariba. ]
      • Lumban Tonga
      • Lumban Dolok
      • Lumban Toruan
    • Debang (Debang Raja) -- (istri Siboru Panamean Boru Sagala)
      [ Debang (Debang Raja) menikah dengan Panamenan boru Sagala, juga bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya sebagaian menyebar ke Paropo. Debang Raja mempunyai 3 putra : Parsidung, Siari dan Sitao. Umumnya keturunannya memakai marga Sidebang atau Sinabang. ]
      • Parsidung
      • Siari
      • Sitao
    • Pintubatu (Batu Raja) -- (istri Bunga Pandan Boru Sinaga)
      [ Pintu Batu (Batu Raja) menikah dengan Bunga Pandan boru Sinaga, juga tinggal di Silalahi Nabolak. Memiliki 3 putra yaitu : Hutabalian, Lumbanpea, Sigiro. Keturunannya menggunakan marga Pintu Batu, tetapi keturunan Sigiro sebagian memakai marga Sigiro. ]
      • Hutabalian
      • Lumbanpea
      • Sigiro
    • Siboru Deang Namora  -- (tidak menikah)
  • istri kedua, adalah Milinggiling boru Mangarerak,
    Raja Silahisabungan memiliki 1 putra, yaitu:
    • Tambun (Tambun Raja) -- (istri Pinta Haomasan Boru Manurung)
      [ Tambun (Tambun Raja) adalah putra Raja Silahisabungan dari si boru Milingiling. Ketika masih remaja, Tambun meninggalkan Silalahi Nabolak menemui ibu kandungnya di Sibisa Uluan. Tambun menikah dengan Pinta Omas boru Manurung dan bermukim di Sibisa. Dari Sibisa keturunannya berserak ke Huta Silombu, Huta Tambunan dan Sigotom Pangaribuan. Putra raja Tambun berjumlah tiga orang yaitu : Tambun Mulia, Tambun Saribu, Tambun Marbun. Umumnya keturunannya memakai marga Tambun dan Tambunan, bahkan di antaranya memakai marga Baruara, Pagaraji, Ujung Sunge. ]
      • Tambun Mulia
      • Tambun Saribu
      • Tambun Marbun

Di samping marga-marga yang disebut di atas, anak-anak Raja Silahisabungan dari isteri pertama memakai marga Silalahi. Sedangkan keturunan Tambun tetap menggunakan marga Tambun (oleh keturunan Tambun Uluan) atau Tambunan (oleh keturunan Tambun Koling).

sumber terkait:
- disadur dari www.silahisabungan.com
Read More...

Si Raja Batak ! Kapan dan darimana ?

Sebagian besar orang-orang yang disebut sebagai masyarakat rumpun Batak, meyakini bahwa Si Raja Batak merupakan orang Batak pertama yang menerapkan sistem marga, yang berkembang hingga beratus-ratus marga yang digunakan sebagai identitas masyarakat Batak saat ini.

Si Raja Batak berasal dari mana ? apakah seperti yang sering digaungkan oleh beberapa peneliti sejarah, bahwa Si Raja Batak datang dari Thailand beserta rombongannya, menetap sementara di pesisir, meninggalkan beberapa keturunan, dan kemudian menuju pulau Samosir dan menetap di Pusuk Buhit, mendirikan kampung Sianjur Mulana. Di tempat inilah Si Raja Batak hidup, dan menurunkan banyak keturunan dan marga hingga sekarang ini.

Sejak zaman Sebelum Masehi, banyak hadir Raja Batak di Sumatra, tapi yang bernama Si Raja Batak cuma satu, yaitu yang ada di Pusuk Buhit. Banyak versi yang berkembang tentang Si Raja Batak, sehingga mengaburkan cerita asli dari legenda orang Batak sendiri. Mari kita lihat beberapa versi tersebut.
  • versi ke 1, mengatakan, bahwa Si Raja Batak berasal dari India, seiring dengan masuknya Hindu ke tanah Sumatra melalui Barus. Terlihat dari beberapa istilah dalam bahasa Batak yang terkait dengan bahasa Hindu, seperti rajha=raja, singha=singa, mangaraja=maharaja, sori=sri, debata=dewata dan lain-lain.
    Adanya beberapa dialek Hindu dalam bahasa Batak, bukan berarti bahwa orang Batak berasal dari Hindu. Hal wajar, apabila suatu bahasa menyerap dari bahasa lain, seperti bahasa Indonesia menyerap bahasa Arab, China, Inggris dan lain-lain, bukan berarti orang Indonesia berasal dari tempat-tempat tersebut.
    Pada masa hidupnya orang Batak di pedalaman Sumatra, juga melakukan kontak hubungan dengan bangsa-bangsa Hindu India, serta merta menyerap tambahan serapan bahasa bagi bahasa Batak yang memang tidak memiliki kosakata tersebut, sehingga kata-kata serapan tersebut menjadi koleksi melengkapi kekurangan dalam bahasa Batak pada masa itu.
  • versi ke 2, mengatakan, Si Raja Batak adalah seorang aktivis dari Kerajaan Sriwijaya. Hal ini terlalu dipaksakan oleh penulis yang ternyata bukan orang Batak, terlalaudihubung-hubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya yang menganut Budha, sejak abad 6 berkembang di Sumatra bagian selatan. Tidak jelas entah apa maksudnya.
  • versi ke 3, Si Raja Batak dikatakan awal hidupnya berada di Barus, yang menghindar dari masuknya orang-orang Tamil dalam jumlah besar di Barus, yang dibawa oleh Raja Rajendra Cola I yang menyerang Kerajaan Pannai sekitar tahun 1024 M, sehingga membuat Si Raja Batak melarikan diri mengasingkan diri ke Pusuk Buhit.
    Hal ini juga hanya pendapat/ anggapan semata, tidak ada bukti yang kuat. Mengapa mengasingkan diri? apa berbuat kesalahan? takut atau stress hingga lari ke pedalaman? kok penakut kali si Raja Batak ya.
  • versi ke 4, dikatakan, Si Raja Batak berasal dari wilayah Gayo, yang berkelana hingga ke selatan, melihat suatu tempat yang subur di Pusuk Buhit dan menetap di sana.
    Mungkin-mungkin saja ada sekelompok orang Batak yang masuk dari daerah Gayo, jauh sebelum adanya orang Gayo, tapi bukan berarti berasal dari orang Gayo.
  • versi ke 5, menceritakan, bahwa Si Raja Batak adalah Anggessri Timorraia, yang sempat bertemu dengan Marcopolo pada abad 15. Pada abad 15?
    Anggessri Timorraia mungkin benar seorang (Raja) Batak yang hidup pada abad 15, tapi Anggessri Timorraia pastinya bukanlah Si Raja Batak yang sudah hidup beribu-ribu tahun lebih lama. Anggessri Timorraia bernama asli Anggi Sori Timur Raya, seorang raja dari Kerajaan di Simalungun marga Simbolon. Hal ini terlihat dari bukti sejarah bahwa Kerajaan-Kerajaan di Simalungun berkembang mulai sekitar abad 13 - 15 M.
    Berarti Anggessri Timorraia jelas berbeda dengan si Raja Batak yang berada di Pusuk Buhit..
  • versi ke 6, katanya Raja Lambing (nenek moyangnya orang Alas) yang hidup pada abad 12 merupakan keturunan dari garis keturunan Raja Lontung. Sedangkan Raja Lontung merupakan keturunan sundut ke-4 dari Si Raja Batak yang (katanya) juga hidup pada abad 12.
    Kalau dihitung sundut, dari Si Raja Lontung hingga ke Raja Lambing diperkirakan sekitar 4 atau 5 sundut. Jadi dari Si Raja Batak hingga ke Raja Lambing diperkirakan sekitar 8 sundut.
    Ini sangat Aneh!, bagaimana bisa Si Raja Batak hidup bersamaan di abad yang sama dengan keturunannya yang generasi ke-8 ?
    Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa si Raja Batak seharusnya hidup beberapa abad lebih lama dari Si Raja Lambing. iya kan ? Berarti semua penelitian dari para pakar yang mengaku pakar, profesor, dan ahli sejarah, pastinya keliru besar. Apakah mungkin si Raja Batak baru ada di dunia ini pada tahun ke 1300 Masehi ? lebih muda dari orang bataknya sendiri yang sudah ada sejak 75000 tahun yang lalu. Atau lebih muda dari keturunannya si Raja Lambing yang ada pada tahun 1200 ?
  • versi ke 7, mengenai masa hidup Si Raja Batak, hidup pada abad 12, karena ditemukannya batu bertulis tahun 1088 M di Portibi oleh Prof. Nilakantisari, seorang guru besar ilmu purbakala dari Madras India.
    Jadi, karena ditemukannya batu bertulis tahun 1088 M di Portibi, apakah Si Raja Batak hidup pada masa itu? Raja Batak yang mana ? Si Raja Batak yang di Pusuk Buhit atau seorang (Raja) Batak di Portibi ? itu bisa saja seorang raja di Portibi, memang benar dia orang Batak yang jadi Raja di Portibi, tapi itu pasti bukanlah si Raja Batak yang di Pusuk Buhit. Jadi penelitian para pakar itu, pastilah tak jelas itu.... kayaknya.

Ada satu versi lain yang sudah lama berkembang, bahwa ternyata orang Batak hidup di Pusuk Buhit sudah sangat lama sekali, ribuan tahun Sebelum Masehi. Dari Si Raja Batak ke Guru Tatea Bulan, Raja Isumbaon dan Toga Laut, mungkin terdapat missing link, mungkin ribuan tahun waktu yang hilang. Hanya saja sejak hadirnya Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, merupakan orang yang sangat pintar (mungkin saat ini sekelas professor lah, kira-kira), ia menciptakan suatu kepercayaan yang sangat diyakini orang Batak pada masa dahulu, dan menampilkan kembali sosok Si Raja Batak yang pernah hidup beribu-ribu tahun yang lalu, digambarkan dan diceritakan sebagai orang tua mereka dan menjadi sosok manusia Batak pertama.

Beberapa peneliti asing dari universitas di AS dan Australia (National Geographic), membuktikan bahwa pulau Samosir telah dihuni oleh orang-orang yang diduga sebagai nenek moyang orang Batak dengan ditemukannya beberapa peralatan alat lukis yang berusia sekitar 75.000 tahun di Pusuk Buhit. Dengan adanya penemuan ini, menguatkan dugaan bahwa orang Batak telah ada di Pusuk Buhit, sejak 5.000 tahun sebelum terjadi letusan mega dahsyat gunung Toba pada 70.000 tahun yang lalu. Nah.. dari letusan "mega dahsyat" gunung Toba yang "konon" memusnahkan 2/3 kehidupan di muka bumi, dan hanya segelintir kecil orang Batak yang tersisa hidup, termasuk Si Raja Batak. Seharusnya, kalau si Raja Batak memang benar ada, pastilah dia hidupnya pada masa 70000 tahun yang lalu, sesudah ledakan Gunung Toba.

Read More...

Rumah Adat Karo


perkampungan suku Karo yang masih asli
(karo-news.blogspot.com)
Suku Karo merupakan salah satu suku tertua di Indonesia. Beberapa peninggalan suku Karo sejak berabad-abad yang lalu, masih bisa ditemukan di daerah Taneh Karo, yaitu berupa rumah-rumah adat tradisional suku Karo.
Beberapa rumah adat ternyata sudah sangat tua sekali. Memiliki kesan mistis tapi memiliki daya tarik yang khas bagi setiap orang yang melihatnya.

Rumah adat suku Karo, sebagai Gerga adalah tempat tinggal sang Raja yang penuh dengan motif ukiran penuh makna. Rumah adat Karo yang paling populer adalah rumah adat Si Waluh Jabu.
Sebenarnya Rumah Adat Karo, terdapat beberapa jenis, yaitu:
  • Gerga, adalah tempat tinggal sang Raja yang penuh dengan motif ukiran penuh makna.
  • Belang Ayo, memiliki bentuk yang mirip dengan Gerga, sehingga kadang Belang Ayo dianggap sama dengan Gerga.
  • Si Waluh Jabu, artinya "delapan rumah" atau makna sebenarnya berarti "delapan keluarga" dalam satu kekerabatan. Rumah adat Si Waluh Jabu adalah nama lain dari Gerga atau Belang Ayo. Rumah adat Si Waluh Jabu ini yang paling banyak masih bisa ditemui di beberapa wilayah adat Taneh Karo.
  • Sepulu Jabu, artinya dalam satu rumah terdiri dari 10 keluarga dalam satu kekerabatan. Berukuran lebih besar dari Si Waluh Jabu.
  • Sepulu Dua Jabu, di dalamnya terdapat 12 keluarga dalam satu kekerabatan. Tidak memiliki kamar seperti Rumah Adat Si Waluh Jabu dan Sepuluh Jabu.
  • Sepulu Enem Jabu, mungkin merupakan Rumah Adat tertinggi di Indonesia. Di huni oleh 16 keluarga dalam satu kekerabatan. Karena Sepuluenem Jabu ini adalah Rumah Adat Karo yang terbesar, kemungkinan Sepuluenem Jabu ini bisa saja merupakan suatu Istana Kerajaan orang Karo yang dihuni oleh para keluarga Kerajaan di masa lalu.
  • Si Enem Jabu, rumah adat yang berukuran lebih kecil dari si Waluh Jabu, dan dihuni oleh 6 keluarga dalam satu kekerabatan.
  • Si Empat Jabu, rumah adat yang berukuran paling kecil, dan dihuni oleh 4 keluarga dalam satu kekerabatan.
  • Jambur, adalah suatu Balai Pertemuan Adat. Bangunan berbentuk rumah adat Karo dengan atap ijuk, merupakan tempat pelaksanaan acara-acara adat (adat perkawinan, adat dukacita) dan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Jambur juga digunakan untuk tempat anak muda tidur. Para pemuda bertanggung jawab atas keamanan kampung mereka. Para pemuda tidak pantas tidur bersama orangtuanya dalam satu kelambu yang disekat-sekat dan sempit. Oleh karena itu para pemuda tidur di Jambur. Selain itu Jambur juga menjadi sarana bagi pemuda desa lain menginap jika kemalaman dalam perjalanan, atau pemuda yang datang bertandang untuk melihat pujaan hatinya yang disebut naki-naki.
  • Griten (Geriten), bangunan adat tempat menyimpan tengkorak keluarga yang telah meninggal. Terdiri dari 2 tingkat dan berbentuk panggung, berdiri di atas tiang penyangga bangunan.
  • Sapo Page, artinya lumbung padi. Bentuk seperti rumah adat. Berada di halaman depan rumah adat. Sama dengan Geriten, Sapo Page terdiri dari dua tingkat dan berdiri di atas tiang. Lantai bawah tidak berdinding. Ruang ini digunakan untuk tempat duduk-duduk, beristirahat dan sebagai ruang tamu. Lantai bagian atas berfungsi untuk menyimpan padi.
  • Lesung, juga digunakan sebagai lumbung padi.
  • Keben, digunakan untuk penyimpanan beras, merupakan bagian penting dari budaya Karo, karena beras merupakan tingkat status yang menunjukkan kekayaan seseorang.

Gerga, Belang Ayo
(http://wisata.kompasiana.com)
Sepulu Dua Jabu
(Collectie Tropen Museum, Netherland)

Sepulu Enem Jabu
(Collectie Tropen Museum, Netherland)
Gerga, Si Waluh Jabu
(era-gambarrumahadatkaroterkinilingga.
blogspot.com)
Keben
(amstrophel13architect.files.
wordpress.com)
Sapo Page
 (era-gambarrumahadatkaroterkinilingga.
blogspot.com)
Rumah adat karo, seperti juga rumah adat Toba, Mandailing, Simalungun, Dairi dan Pakpak, tidak memiliki kamar-kamar. Rata-rata rumah adat dari klan Batak ini, dapur tempat memasak berada di tengah rumah. Semua rumah-rumah adat ini adalah rumah panggung dengan falsafah masing-masing pula.
Rumah adat Karo yang berada di daerah pegunungan dengan udara yang dingin, dapur di tengah rumah memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain menerangi bagian rumah, juga memberikan kehangatan bagi seluruh keluarga.

Rumah Adat Si Waluh Jabu paling mudah ditemui, karena peninggalannya masih bisa ditemui tersebar di beberapa wilayah tanah adat Karo, sedangkan Rumah Adat Sepulu Jabu dan Sepulu Dua Jabu, sudah sangat susah ditemui.
Rumah adat Sepulu Dua Jabu, tidak memiliki kamar, tapi ada aturan agar tiap-tiap keluarga menjaga sopan santun dan adat istiadat yang kuat.
Rumah Adat Karo, seluruhnya berbentuk panggung, dibangun dengan tonggak penyangga bangunan. Atap rumah agak lancip dan dipenuhi ukiran. Semua ukiran memiliki makna sendiri-sendiri. Besar bangunan sekitar dua kali lapangan volley. Atap dilapisi daun ijuk, yang pada beberapa bangunan yang tua sudah ditumbuhi lumut hijau. Bubungan atap yang menghadap ke Barat bterdapat tanduk kerbau jantan yang menjulang dengan gagah (merupakan ciri khas bangsa tua budaya Dong Son). Sedangkan bubungan atap yang menghadap ke Timur terdapat tanduk kerbau betina. Satu mitos orang Karo mengatakan bahwa kedua tanduk itu merupakan tanda penolak bala, yang menyerang dari Timur dan Barat.

Di dalam ruangan rumah adat, tidak ada lampu yang menerangi, terkesan gelap dan angker. Beberapa tiang penyangga ruangan berukuran besar berada di dalam ruangan.
Di dalam ruangan di sebelah kiri dan kanan, terdapat 5 hingga 8 ruangan yang merupakan rumah-rumah tempat tinggal setiap keluarga (KK). Jadi, di dalam ruangan rumah adat terdapat beberapa rumah lagi (hal ini menunjukkan bahwa suatu rumah adat merupakan wadah bagi beberapa keluarga yang tinggal dalam satu rumah, lebih tepat merupakan suatu kampung kecil dalam satu bangunan rumah adat).  Masing-masing rumah yang berada di dalam rumah adat memiliki ukuran luas sekitar 6 m. Menurut cerita, dulunya dalam suatu rumah adat terdapat 8 hingga 16 keluarga dalam satu rumah adat.
Para (tungku memasak), berada di antara 2 rumah berbentuk petak. Di atas para, terdapat tempat menyimpan kayu bakar, yang digantung di atas tempat semacam plafon. Dua keluarga harus berbagi jatah memasak. Dalam satu rumah adat hanya ada 5 para.
Dinding rumah terdapat ukiran 5 warna, dengan motif saling kait, yang masing-masing warna pastilah memiliki makna sendiri, yang sayangnya tidak diketahui secara pasti tentang makna tersebut. Menurut penuturan warga Karo, hanya tinggal para orang tua lanjut usia saja yang paham mengenai makna 5 warna tersebut.

Menurut seorang warga Karo, bahwa 5 warna ukiran tersebut melambangkan keakraban dan kekerabatan antara 5 marga besar dalam suku Batak Karo, yang saling bersaudara, yaitu:
  • warna Merah adalah simbol marga Ginting
  • warna Hitam, milik marga Sembiring
  • warna Putih, milik marga Siangin-Angin (Peranginangin)
  • warna Biru, milik marga Tarigan
  • warna Kuning Keemasan, milik marga Karo-Karo.

Konsep rumah adat Karo ini oleh para arsitek di masa awal pembangunan rumah adat ini sangat lengkap, sampai memikirkan kekuatan bangunan, sehingga apabila terjadi gempa rumah adat akan tetap berdiri kokoh. Palas (antara batu pondasi dan tiang kayu penyangga rumah), dilapisi batang ijuk, yang berfungsi meredam getaran akibat gempa, rumah akan mengikuti arah getaran gempa.

Di masa lalu, dalam membangun rumah adat harus dilakukan dengan ritual panjang. Kayu bahan bangunan dipilih seizin sang dukun. Mereka memilih kayu dari hutan, memotong-motong dan dibawa ke hadapan sang dukun. Oleh sang dukun, kayu-kayu tersebut didoakan, dimimpikan, untuk kemudian dipilih kayu mana yang boleh digunakan. Pemilihan kayu harus tepat, karena apabila salah memilih kayu, maka diyakini akan membawa bencana.
Jenis kayu yang boleh dipakai untuk membangun, hanya boleh dari 3 jenis saja, yaitu:
  • kayu Ndrasi, diyakini menjauhkan keluarga yang tinggal di rumah tersebut tidak mendapat sakit.
  • kayu Ambartuah, dipakai supaya mereka diberi tuah, ataupun kesejahteraan hidup.
  • kayu Sibernaik, dipakai untuk mendoakan kemudahan rezeki.
Di dalam rumah adat, terdapat banyak aturan dan pantangan adat yang harus dipatuhi oleh setiap keluarga yang tinggal di dalam rumah adat. Bicara tidak boleh sembarangan, tidak boleh duduk di tengah ruangan, tidak boleh duduk di tungku, karena tungku adalah tempat untuk memasak dan lain-lain.

Masing-masing keluarga dalam rumah adat menjaga keluarga masing-masing, tidak saling mengganggu. Seperti memasak, melakukan sesatu, bahkan melintasi sudut-sudut milik keluarga lainnya. Terlebih laki-laki, jika mereka melintasi kawasan keluarga lainnya, pandangannya harus tetap terjaga memandang ke depan. Mata tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan, apalagi sampai menoleh ke sekat-sekat wilayah keluarga lain. Dia hanya boleh melihat ke wilayah dimana dia tinggal.
Tutur kata, cara berbicara harus tetap terjaga. Terlebih malam hari, karena jangan sampai mengganggu privacy tetangga. Hampir semua aturan tinggal di rumah adat Karo tidak tertulis, namun ditaati, sebagai sebuah aturan adat istiadat yang harus dijunjung tinggi.
Semisal, jika anak kandung kita meninggal dunia, kita masih boleh tinggal di rumah adat. Tapi bila istri kita meninggal dunia, kita harus pindah tidur ke Jambur, karena seorang duda tidak boleh tinggal di dalam rumah adat. 
Jika isteri kita meninggal dunia dan kita wajib tidur di Jambur, maka ada kata-kata ”suin anak kalake mate asang anakta” yang berarti "lebih sakit kematian anak orang lain dari pada kematian anak kandung sendiri".
Jika kematian anak kandung, kita masih boleh tinggal di dalam rumah adat. Tapi jika isteri kita (anak orang lain) yang meninggal dunia, maka kita harus keluar dari rumah adat dan bergabung dengan pemuda di jambur. Seluruh aturan harus dipatuhi, untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Karena banyaknya pantangan yang harus dipatuhi, sehingga lama kelamaan banyak yang pergi meninggalkan Rumah Adat dan memilih menetap di rumah biasa. Sehingga hal ini dikhawatirkan Rumah-Rumah Adat Karo yang banyak meninggalkan sejarah akan menghilang akibat tidak terawat ditinggal penghuninya.

Bujur, Mejuahjuah!

referensi:
  • http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/01/12/lingga-dinasti-yang-terlupakan-429862.html
  • http://www.analisadaily.com/mobile/pages/news/37034/dalam-rumah-adat-karo-lebih-sakit-kematian-anak-orang-lain-daripada-kematian-anak-sendiri
  • http://karo-news.blogspot.com/2010/10/tanah-karo-di-era-80-1.html 
  • http://bethelginting.blogspot.com/2012/05/otensi-rumah-adat-karo-siwaluh-jabu.html 
  • http://amstrophel13architect.wordpress.com/author/amstrophel13architect/page/25/ 
  • http://era-gambarrumahadatkaroterkinilingga.blogspot.com/2012/01/gambar-rumah-adat-karo-desa-lingga.html

Read More...

Suku Gayo Deret

Suku Batak Gayo Deret, atau Gayo Linge, merupakan salah satu sub-etnis dari suku Gayo yang menetap di daerah Linge di kabupaten Aceh Tengah provinsi Aceh. Populasi orang Gayo Deret diperkirakan sekitar 8000 orang pada sensus tahun 2010.

Orang Gayo Deret berbicara dalam bahasa Gayo, tapi bahasa Gayo yang mereka ucapkan memiliki dialek yang agak berbeda dengan kelompok puak (sub-etnis) Gayo lainnya. Bahasa Gayo Deret/ Linge walaupun memiliki perbedaan dialek dengan puak (sub-etnis) Gayo lainnya, seperti Gayo Lut (di kabupaten Bener Meriah dan sebagian Aceh Tengah), Gayo Lues/Belang (kabupaten Gayo Lues)  serta Gayo Lukup/Serbejadi (di Aceh Timur dan Gayo Kalul di Aceh Tamiang tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
 
Umah Pitu Ruang
Umah Pitu Ruang di Buntul Linge
(Rumah Adat Gayo Linge)
Orang Gayo Deret mengamalkan adat istiadat serta budaya yang tidak jauh berbeda dengan puak Gayo yang lain. Hanya terdapat perbedaan istilah saja dalam penyebutan beberapa istilah dalam budaya dan adat-istiadat mereka. Istilah "deret" tidak diketahui berasal dari mana, tapi dari penuturan orang tua-tua dari masyarakat Gayo Deret, bahwa istilah "deret" adalah berasal dari nama seseorang yang dahulunya diberi tugas oleh sang Raja mereka untuk memelihara seluruh jenis binatang yang berada di wilayah adat mereka ini. Sedangkan istilah "linge" berasal dari kata "lenge", dalam bahasa Gayo, "linge" berarti  “suaranya”. Setelah masa kemerdekaan daerah Linge lebih dikenal dengan sebutan Gayo Deret. Linge adalah nama sebuah kampung dan juga salah satu nama kecamatan di kabupaten Aceh Tengah, dengan ibukota Isaq. Kampung Linge memiliki 3 dusun, yaitu Kawe Tepat, Pengkudu dan Buntul dengan penduduk sekitar 100 KK.

Daerah pemukiman orang Gayo Deret di Linge, adalah daerah perbukitan (80% wilayahnya ditumbuhi Pinus Merkusi), sehingga merupakan daerah yang asri. Namun daerah Gayo Deret yang berada di perbukitan, tapi udaranya tidak sedingin di Takengon dan Bener Meriah.

makam Raja Linge dan istri,
di kampung Linge, kec. Linge,
Aceh Tengah
(pic: Alfazri, Kompasiana)
Di daerah ini dahulunya pernah berdiri sebuah kerajaan besar sekitar abad X, yang bernama Kerajaan Linge (Kerajaan Lingga) sekitar tahun 1025M. Kerajaan Linge ini adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada masa jauh sebelum ada Kerajaan Aceh Darussalam yang sultan pertamanya Meurah Johan merupakan anak keturunan Raja Linge yang pertama, yaitu Adi Genali. Konon, orang Gayo lah pemeluk Islam pertama di wilayah provinsi Aceh ini. Selain itu menurut orang Gayo Deret, bahwa orang-orang Gayo pertama sekali berasal dari daerah Linge, kemudian menyebar ke berbagai daerah di luar Linge. Seperti dalam pepatah Gayo, Keasalan Linge terungkap dalam pepatah Gayo, “Asal Linge Awal Serule” dan menurut Kekeberen (Tradisi lisan).
Sesuatu yang menarik terjadi baru-baru ini di Tanoh Linge, pada 28 Januari 2013 di Umah Pitu Ruang Buntul Linge, telah mengukuhkan Iklil Ilyes Leube sebagai Pemangku Reje Linge XVIII. Menurut keterangan, bahwa pengukuran Reje Linge ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat Linge Raya meliputi kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Kalul di kabupaten Tamiang dan Lukup Serbejadi di Aceh Timur. Dengan ini berarti Kerajaan Linge memiliki seorang Reje kembali.
Gayo akhirnya punya raja Linge lagi. Dan ini terjadi Senin 28 Januari 2013 bertempat Umah Pitu Ruang Buntul Linge Iklil Ilyes Leube dikukuhkan sebagai pemangku Reje Linge ke-XVIII.
Pengukuhan ini dihadiri oleh masyarakat,  akademisi, ketua dan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Menurut keterangan Fauzan Azima selaku penyelenggara di Buntul Linge kepada Lintas Gayo, Senin (28/01/2013), pengukuhan Reje Linge ini sudah lama digagas oleh akademisi, seluruh ketua KPA kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah dan Aceh Tenggara.
“Pengukuhan ini bertujuan hanya untuk mermpersatukan masyarakat Linge Raya meliputi kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Kalul di kabupaten Tamiang dan Lukup Serbejadi di Aceh Timur,” kata Fauzan Azima
- See more at: http://www.lintasgayo.com/33955/fauzan-azima-pengukuhan-reje-linge-untuk-satukan-masyarakat-gayo.html#sthash.aqluN9j1.dpuf
Linge | Lintas Gayo – Gayo akhirnya punya raja Linge lagi. Dan ini terjadi Senin 28 Januari 2013 bertempat Umah Pitu Ruang Buntul Linge Iklil Ilyes Leube dikukuhkan sebagai pemangku Reje Linge ke-XVIII. - See more at: http://www.lintasgayo.com/33955/fauzan-azima-pengukuhan-reje-linge-untuk-satukan-masyarakat-gayo.html#sthash.TckMRUpM.dpuf

Kehidupan yang semakin berkembang dalam masyarakat Gayo Deret dari tahun ke tahun semakin menunjukkan eksistensi mereka sebagai orang Gayo di tengah budaya mayoritas suku Aceh di provinsi Aceh. Menurut cerita di masa lalu, konon orang Gayo Deret kalau berhubungan dengan masyarakat lain biasanya mengaku sebagai orang Aceh, karena kalau menyebut "dari Gayo", kuatir orang tidak tahu apa itu "orang Gayo". Tapi kini, orang Gayo Deret telah percaya diri untuk menyebut diri sebagai orang Gayo Deret.

beberu (para perempuan)
sedang menumbuk padi
Dalam kehidupan keseharian, orang Gayo Deret pada umumnya juga hidup pada pertanian padi sawah dan perladangan. Dalam perkembangannya, mereka juga mencoba mengembangkan pola pertanian mereka pada tanaman keras seperti kopi dan kakao, sedangkan tanaman khas di wilayah Gayo Deret adalah kemili (kemiri). Selain pertanian, masyarakat Linge juga dikenal sebagai peternak hewan, khususnya kerbau.

referensi:
>  http://protomalayans.blogspot.com/2012/08/suku-gayo-deret.html
>  http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/20/linge-negeri-asal-orang-gayo-575099.html
>  http://winaan.blogspot.com/2011/02/sejarah-singkat-gayo.html 
>  http://voice-of-linge.blogspot.com/
Read More...