Sere Kalina Florencia Sitorus




Satu lagi boru batak asal Sumatra Utara hadir sebagai artis, model dan pembawa acara di dunia perartisan Indonesia. Saat ini dia menjsdi pasangan Daniel Mananta pada acara Indonesian Idol 2018.

Sere Kalina Florencia Sitorus (lahir 19 Maret 1994; umur 23 tahun) merupakan seorang model dan pembawa acara berkebangsaan Indonesia. Dia memulai karier sebagai finalis GADIS Sampul tahun 2008 serta Miss Indonesia 2015 mewakili Provinsi Sumatera Utara.

Sere Kalina Florencia Sitorus
Lahir19 Maret 1994 (umur 23)
Bendera Indonesia Indonesia
Pekerjaanpembawa acara, model
Tahun aktif2008 - sekarang

Walaupun nggak membawa pulang gelar juara, wanita yang akrab disapa Sere ini masuk dalam 7 besar. Ia pun memenangkan Fast Track untuk Best Catwalk dan dinobatkan sebagai Miss Lifestyle dalam kompetisi tersebut.

Pembawa acaraSunting

  • Top Sports MNCTV
  • Dahsyat
  • Super Europhoria RCTI
Read More...

Gerhana Bulan dalam Pemahaman Orang Batak

Gerhana Bulan dalam Pemahaman Nenek Moyang Batak


Medanbisnisdaily.com - Medan. Pada masa lalu fenomena gerhana bulan sering dianggap sebagai peristiwa mistis. Begitupula dengan masyarakat Batak Toba. Ketika gerhana bulan, terutama gerhana bulan penuh, diyakini akan membawa sial.

Hal itu didasarkan pemahaman mereka bahwa ketika gerhana bulan, bulan sedang ditawan roh jahat sehingga bumi menjadi gelap.

Karenanya untuk mengusir roh jahat itu mereka akan memukul-mukul benda untuk menghasilkan bunyi-bunyian sambil berteriak bersama-sama. Bunyi-bunyian itu untuk mengusir roh jahat.

"itulah sebabnya kalau mau gerhana bulan orang-orang kumpul di halaman rumah mereka. Begitu bulan lenyap mereka langsung memukul-mukul benda apapun yang bisa mengeluarkan bunyi. Mungkin seperti mengusir burung di sawah," jelas budayawan Batak dari Komunitas Batak Sedunia, Soritua Naibaho kepada Medanbisnisdaily.com, Senin (29/1/2018).

Ada juga yang berpendapat saat itu bulan telah dimakan seekor naga jahat, karenanya ketika bulan menghilang orang-orang memukul-mukul tanah. Karena di tanah itulah naga itu berdiam, lanjutnya.

Sori melanjutkan, sekarang ini baru kita pahami bahwa gerhana bulan adalah salah satu fenomena alam dimana cahaya bulan tertutup oleh bumi sehingga untuk beberapa saat bumi menjadi gelap. Bulan seakan-akan hilang.

Seperti yang diinformasikan LAPAN pada 25 Januari 2018 lalu, gerhana bulan penuh(total) akan berlangsung pada Rabu 31 Januari 2018. Menurut LAPAN, gerhana kali ini akan sangat istimewa karena posisi bulan berada dalam konfigurasi supermoon dan bluemoon.

 
REPORTER
JONNES GULTOM
Read More...

Parmalim

Banyak hasil penelitian tentang Parmalim yang keliru. Salah satunya disebabkan karena si peneliti tidak bebas nilai.
(istimewa)
1 JAM YANG LALU  •  DILIHAT 166 KALI  • http://www.mdn.biz.id/o/16443/
Mengenal Parmalim: Asal-Muasal Manusia, Ibadah dan Paham Poligami

Medanbisnisdaily.com-Medan. Sejak tahun 90-an, banyak peneliti, akademisi, jurnalis maupun penulis, yang tertarik mengulas Parmalim dan ajaran agama mereka, Ugamo Malim. Sayangnya, tidak sedikit di antaranya yang keliru. Hal itu disebabkan beberapa hal, antara lain, saat meneliti, peneliti menggunakan perspektif (agama) tertentu. Referensi yang tidak valid serta melakukan koneksi sejarah yang tidak tepat waktu dan penamaan.

Hal itu dijelaskan salah seorang pimpinan (ihutan) Parmalim Hutatinggi, Laguboti, Balige, Monang Naipospos dalam sebuah diskusi Parmalim di salah grup media sosial, Kamis (7/12/2017).

Monang Naipospos yang juga dikenal sebagai budayawan Batak Toba ini mengklarifikasi sejumlah pendapat keliru tentang Parmalim, yang berkembang selama ini.

Medanbisnisdaily.com yang ikut dalam diskusi itu, menguraikan beberapa point yang diklarifikasi sekaligus dijelaskan Monang Naipospos dalam diskusi itu.

“Perlu saya jelaskan bahwa sebutan "Parmalim" populer sejak awal tahun 1920. Semula penganut kepercayaan leluhur ini (yang tidak mau terpengaruh Kristen dan Islam) ada beragam penyebutan, seperti "parsitengka, parugamo, parpasti, parhudamdam, siinum uras. Namun yang terlembaga dengan baik adalah kelompok yang dipimpin Raja Mulia Naipospos yang disebut orang ‘parugamo’, “jelasnya.

Seiring dengan waktu, lembaga itu kemudian disebut dengan Ugamo Malim. Dasar anutannya adalah para "Malim" (orang alim, suci). Sesuai dengan kosa kata bahasa Batak; orang yang melakukan sesuatu diimbuh dengan "par" seperti par-onan, par-horbo, maka par-Ugamo Malim. "Par Ugamo Malim" kemudian disebut Parmalim itu pada tahun 1921.

Monang juga menampik adanya asumsi yang menyebut ibadah Parmalim yang biasa dilakukan pada hari Sabtu, meniru konsep Hari Sabat dalam Perjanjian Lama (Kristen). Dijelaskannya, Parmalim pimpinan Raja Mulia Naispospos, di awal-awal melakukan ibadah mingguan itu pada hari ke-2 Samisara dalam kalender Batak. Karena itu pula selama beberapa tahun sempat juga kelompok ini disebut parsamisara.

Kemudian para tokoh mengadopsi kalender latin karena sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melakukan analisa, karena Samisara itu kadang bertepatan hari Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu serta hari-hari lain. Karena pertemuan itu sering terjadi pada Sabtu, maka ditetapkanlah kegiatan mingguan ini pada hari Sabtu. Namun untuk hari besar ibadah lainnya masih tetap mengacu pada kalender Batak.

Sementara kelompok lain yang menamakan dirinya juga sebagai Parmalim seperti yang ada di Habinsaran justru menetapkan ibadah mingguan pada hari Rabu. Mereka sempat disebut “Pararipasti”. Selain itu Parmalim yang ada di Meranti justru tidak memiliki ibadah mingguan.

Monang juga mengklarifikasi pendapat yang menyebut Tumbaga Holing sebagai Kitab Parmalim. Begitu juga dengan konsep penciptaan manusia pertama, Adam dan Hawa.

Dijelaskannya, Parmalim tidak memiliki kitab Tumbaga Holing, tidak mengenal Adam dan Hawa sebagai manusia pertama. Manusia pertama yang mereka yakini adalah Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia, sesuai dengan pemahaman orang Batak di masa lalu.

Begitu juga dengan larangan makan babi dan darah, sebagaimana yang diikuti umat Al Masih Timur berdasarkan Alkitab (Perjanjian Lama) dan juga Islam. Pantangan mengkonsumi babi dan darah dalam ajaran Ugamo Malim, dijelaskan Monang mengacu pada keyakinan masyarakat Batak di masa lalu.

“Dahulu orang Batak memahami “Hamalimon” (kealiman, kesucian) mengacu kepada “Haiason” bersih jasmani dan rohani. Kemudian berkembang menjadi “Parsolamon”. Yakni kemampuan membatasi diri dari hal-hal yang mengotori jasmani dan rohani. Banyak hal yang menjadi bagian parsolamon itu, salah satunya tidak mengkonsumsi babi dan darah,” ujarnya.

Terkait dengan penggunaaan sorban putih, Monang menjelaskan bahwa ikat kepala lazim digunakan orang Batak di masa lalu. Yang memiliki makna harajaon adalah yang berwarna hitam. Sedang makna kekuatan adalah merah. Warna putih melambangkan kesucian. Bila ketiganya digabung disbut tigabolit. Parmalim sendiri bisa menggunakan ketiga warna itu dan tak harus putih. Namun Pimpinan Parmalim yang merupakan keturunan Raja Mulia biasa menggunakan ikat kepala berwarna hitam dengan rumbai warna merah yang disebut “Tumtuman”.

Monang Naipospos juga mengklarifikasi asumsi yang menyebutkan Parmalim lekat dengan paham monogami sebagaimana yang diajarkan dalam Kristen. Dijelaskannya Parmalim tidak memiliki paham monogami. Tetapi dalam praktik kehidupan berkeluarga, sebagaiman orang Batak, tidak mudah bagi Parmalim melakukan poligami.


sumber:

http://www.medanbisnisdaily.com/m/news/online/read/2017/12/08/16443/mengenal_parmalim_asal_muasal_manusia_ibadah_dan_paham_poligami/#.Wios_v1Re6U.facebook

Read More...

Wisata Tersembunyi, Air Terjun Saili, Air Terjun 7 tingkat

Para wisatawan sedang menikmato suasana di Air Terjun Saili
Berbicara tempat objek wisata di Tapanuli, Sumatera Utara, memang tiada habisnya, khususnya Tapanuli Tengah. Dari 20 Kecamatan yang ada di daerah ini, rata rata memiliki tempat wisata. Baik wisata pantai dan air terjun.
 
Misalnya saja, di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang memiliki objek wisata air terjun bertingkat 7 ( tujuh). Warga setempat, menyebutnya Air Terjun Saili. Lokasinya memang tidak mudah untuk dijangkau, karena hampir memakan waktu lebih kurang 2 jam dengan berjalan kaki dengan menyusuri hutan yang terjal dan menurun, serta berliku liku. Itupun sesekali harus beristirahat diantara lebatnya hutan untuk mengembalikan stamina melanjutkan perjalanan menuju air terjun bertingkat 7 ini.

Takkala, melihat para wisatawan yang berkunjung mengalami rasa lelah yang berlebihan, tidak sedikit mereka menyerah untuk kembali ke titik awal dan tidak sedikit pula wisatawan yang tersesat di karenakan alur jalan yang belum jelas.
Akan tetapi rasa lelah dan letih yang di alami para wisatawan akan terbayar lunas akan keindahan air terjun saili (7 tingkat) tersebut. Tidak terduga hasil yang di harapkan sangat memuaskan, lelah dan letih saat perjalanan  2 jam seakan hilang begitu saja saat melihat betapa indah nya air terjun ciptaan Tuhan ini.
 
Tidak hanya menikmati keindahan dan kesejukan air terjun tersebut dengan mata saja, para wisatawan juga menikmatinya dengan seluruh badannya dengan merasakan air yang mengalir deras dari tingkatan pertama hingga ketujuh dari air terjun tersebut. Bahkan wisatawan menaiki tingkat demi tingkat air terjun ini dengan rasa penasaran untuk memastikan kebenaran jumlah tingkatan dari air terjun saili (7 tingkat).
 
Akses menuju lokasi objek wisata ini serta penataan air terjun Saili, mestinya mendapat perhatian dari pemerintah setempat, untuk menambah daya tarik wisatawan berkunjung ke Negeri Wisata Sejuta Pesona, Tapteng.


source:  http://www.smartnewstapanuli.com/berita-wisata-tersembunyi-air-terjun-saili--7-tingkat--tapanuli-tengah.html
Read More...

suku Bonai

ritual adat suku Bonai
Suku Bonai, adalah satu suku yang masih mempertahankan hidup terasing di pedalaman provinsi Riau. Suku Bonai bermukim di kabupaten Rokan Hulu di pesisir sungai Rokan Kiri, sebagian kecil terdapat juga di sekitar sungai Rokan Kanan.

Konon nama Bonai berasal dari kata Manai dari bahasa Bonai, yang Manai yang kalau diartikan kira-kira berarti "pemalas". Tidak diketahui apakah arti ini ada hubungannya dengan identitas Bonai ini. Sedangkan pendapat lain mengatakan istilah Bonai karena di wilayah pemukiman suku Bonai ini pada masa lalu banyak ditumbuhi pohon Bonai (sejenis pohon ukuran menengah (tidak lebih dari 4 meter), berdaun kecil-kecil, buah bulat-bulat berwarna kemerahan, berwarna hitam bila masak, rasanya agak asam. Buah bonai ini merupakan bahan baku masakan ikan, dimasak dengan air secukupnya dan dijadikan kuah ikan, dengan rasa kuah asam.

Urang Bonai (orang Bonai) di Rokan Kiri sangat memegang tradisi yang datang dari daerah Bonai “kampong nonom” (kampung yang enam).

ritual pengobatan suku Bonai
Asal usul suku Bonai sendiri tidak diketahui secara pasti, karena yang tertinggal hanya beberapa cerita rakyat di kalangan mereka sendiri.
Konon pada masa lalu ada dua orang Sultan bernama Sutan Harimau dan Jangguik yang berasal dari Tapanuli Selatan dikarenakan pemanggilan Sultan diubah menjadi Sutan, Pada saat Sutan Harimau menjumpai kampung-kampung yang enam tersebut dihantarkanlah satu orang setiap kampung yang sudah dihuni sebelumnya oleh orang Sakai. Kampung enam tersebut adalah 1. Bonai atau disebut juga Kampung Nogori, 2. Sontang, 3. Torusan Puyuh, 4. Titian Gadiang, 5. Toluk Sono (Kasang Mungkai), 6. Sungai Murai (Muaro Dilam) (sekarang termasuk ke dalam kecamatan Bonai Darussalam). 

Lalu ke 6 kampung ini pun berkembang setelah kehadiran Sutan Harimau. Keturunan kampung nonom tersebut ada yang merantau hingga ke kalimantan dan diperkirakan ke Brunai Darussalam sekarang, menurut cerita turun temurun nama Brunai darussalam berasal dari Bonai Darussalam berdasarkan daerah asal orang Bonai.

Suku Bonai yang dibawa oleh Sultan Harimau dan Janggui tadinya diperkirakan telah beragama Islam, namun dari beberapa penutur diperkuat dari cerita yang disampaikan T. Khairulzaman, nenek moyang mereka ini adalah dari suku Sakai-Bonai yang menempati daerah sekitar pedalaman Tanjung Pauh, dan antara Toluk Sono dan Sontang, mereka ini tidak mau memeluk Islam. Pertama mereka masuk melalui daerah Deo Limbuk, sebelumnya mereka memasuki daerah ini sesuai cerita asal usul nama Ulak Patian. Daerah Deo Limbuk terletak 3 km dari Ulak Patian sekarang, merupakan daerah dataran tinggi namun bisa terendam banjir pada saat air dalam.

Urang Bonai (orang Bonai) di Ulak Patian
Asal-Usul suku Bonai di Ulak Patian berasal dari kampong nonom di Rokan Kiri kecamatan Bonai Darussalam. Masyarakat suku Bonai di sana mengatakan, bahwa mereka berasal dari Bonai Onom Batin dari kampung Titian Gadiang, sei. Murai dan Rao-rao (kampung letaknya kualo sako) datang secara berkelompok sekitar tahun 1935 dengan mendaulatkan seorang Bogodang bernama Mudo Kacak, mereka ini adalah suku Bonai yang belum beragama Islam.

Suku Bonai berada dalam budaya dan tradisi Islam suku Melayu, yang akhirnya membawa mereka memeluk agama Islam. Sehingga saat ini hampir secara mayoritas masyarakat suku Bonai telah memeluk agama Islam. Walaupun begitu beberapa tradisi adat lama mereka, masih tetap dipertahankan.
Beberapa tradisi dan budaya suku Bonai, adalah :
  • Tari Buong Kwayang, tari pengobatan tradisional yang dikemas dalam tari tradisional, tari ini telah menyerap syair bernuansa Islam (syair pembuka; salamualaikum sibolah kanan, salamualaikum sibolah kiri)
  • Cegak, (awang-awang, selesai, baju), semacam tarian dalam acara perhelatan perkawinan dan hari besar lainnya, di mana beberapa orang membaluti tubuhnya dengan latah (sampah daun) daun pisang kering, lalu menari-nari yang diiringi oleh musik Gondang Borogong.
  • Tahan Kuli, sejenis acara adat (mirip debus) yaitu melukai diri tanpa bekas
  • Lukah Gilo, lukah yang menggila yang dipegang oleh beberapa orang.
  • Tahan Kulik, adalah penyaluran kebatinan bodeo dalam tradisi Islam (Silek Bangkik, Silek 21 hari dan Jonkobet).
  • Koba,

Makanan khas Urang Bonai Ulak Patian, adalah:
  • Anyang Kalu, ikan kalu yang di iris-iris tubuhnya dan dicelupkan sesaat dalam air yang mendidih, lalu di peraskan kulit kayu bintungan yang sudah ditokok (rasanya kolek), lalu digiling spodeh, cabe, dan disiram dengan asam limau, boleh dioleskan ke ikan dan boleh tidak.
Makanan ini adalah khas Ulak Patian, dahulu dijadikan hidangan penyambut tamu terhormat.

Setelah masuknya agama Islam ke dalam masyarakat suku Bonai, maka sebagian dari mereka pecah masuk menjadi beberapa suku atau menjadi marga yang diakui oleh kerapatan adat Luhak kepenuhan, yaitu
  • Suku Molayu Panjang,
  • Suku Molayu Bosa,
  • Suku Kandangkopuh,
  • Suku Bono Ampu,
  • Suku Kuti,
  • Suku Moniliang
Adat Perkawinan umumnya seperti yang dilakukan oleh adat-istiadat Luhak Kepenuhan, sedikit-sedikit membawa cara Bodeo, hanya sebagai tambahan dan pelengkap perayaan perkawinan. 

acara tari Kwayang suku Bonai
Masyarakat suku Bonai berbicara dalam bahasa Bonai, yang menurut para ahli bahasa dikelompokkan ke dalam Rumpun Bahasa Melayu. Bahasa Bonai sekilas mirip dengan bahasa Melayu, tetapi beberapa perbendaharaan kata juga mirip dengan bahasa Batak Mandailing dan bahasa Minangkabau.

Saat ini kehidupan masyarakat suku Bonai sebenarnya telah banyak mengalami kemajuan dalam berbagai sektor, seperti pendidikan dan kesehatan, tetapi di beberapa desa masih dalam kondisi kurang layak. Kehidupan sehari-hari masyarakat suku Bonai, sebagian mencoba berprofesi sebagai petani di ladang, dan bercocok-tanam sayur-sayuran serta buah-buahan. Beberapa hewan ternak juga menjadi pilihan mereka untuk menambah penghasilan mereka.

sumber:
  • onlineallarticles.blogspot.com
  • rokan.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain
foto:
  • flickr.com
  • sagangonline.com
  • rokan.org
Read More...

Suku Karo Melayu Pesisir Timur


Suku Karo Melayu Pesisir Timur, adalah suatu masyarakat adat yang wilayah pemukimannya tersebar di daerah pantai Timur Sumatra Utara. 

Komunitas suku ini menyebut diri mereka sebagai suku Melayu Pesisir Timur. Apabila ditilik asal usul komunitas masyarakat ini, dahulunya mereka berasal dari keturunan suku Karo Jae (Karo Bawah), yang sejak ratusan tahun lalu bermigrasi ke wilayah pantai Timur Sumatra Utara. Di wilayah pantai Timur Sumatra ini, mereka lama bermukim dan hidup bersama-sama suku Melayu yang telah berada di wilayah ini. Karena telah sekian lama mereka hidup dan tinggal di wilayah ini, mereka melepas marga dan adat-istiadatnya, yang pada akhirnya mereka menyatu dengan budaya Melayu setempat. Oleh karena itu saat ini mereka pun menyebut diri mereka sebagai suku Melayu Pesisir Timur. 

Dari penuturan para orang tua di masyarakat suku Melayu Pesisir Timur, menceritakan bahwa mereka dulunya memang berasal dari Tanah Karo, tepatnya dari suku Karo Jae. Konon, pada masa lalu mereka mengalami kesulitan hidup di wilayah asal mereka, selain itu sering terjadi konflik di kalangan masyarakat suku Karo Jae, tidak tahan terhadap situasi serba sulit itu, banyak dari mereka yang memilih pindah mencari tempat baru untuk melanjutkan hidup mereka. Dalam perjalanan mereka menyusuri sungai Sunggal dan sungai Deli hingga sampailah ke pesisir pantai timur Sumatra Utara, yang pada masa itu disebut sebagai Sumatra Timur.

Secara fisik mereka memang berbeda dengan suku Melayu Pesisir yang memang berkerabat dengan suku Melayu Riau dan suku Melayu dari Tanah Semenanjung Malaysia. Suku Karo Melayu Pesisir Timur ini berkerabat dengan suku Karo Jae di daerah Deli Serdang dan Langkat. Tetapi setelah sekian lama, mereka pun telah menjadi Melayu, dan menganggap diri mereka sebagai Melayu.

Pada beberapa tahun belakangan ini, terdapat kemajuan pada masyarakat Karo Melayu Pesisir Timur ini, karena beberapa dari mereka mulai mencantumkan kembali marga-marga yang telah lama mereka lepaskan. Beberapa marga yang terdapat pada mereka adalah Surbakti, Kembaren dan Purba telah kembali mereka cantumkan pada identitas mereka. Seperti para Batak Dalle di Sumatera Timur, para Karo Melayu ini pun akhirnya juga mulai banyak yang kembali menyadari asal usul keluarganya. Sejak tahun 1950 sampai sekarang, mulai banyak mereka yang kembali menggunakan Merga (Marga) Karo nya. Akan tetapi budaya, bahasa daerah Karo, dan adat istiadat Karo mereka yang sudah hilang selama beberapa generasi memang sulit untuk dikembalikan. Sehingga mereka tetap diklasifikasikan sebagai warga Karo Melayu Pesisir Timur atau Karo Melayu. Walaupun begitu, mereka tetap menyebut diri mereka sebagai suku Melayu Pesisir Timur. Mereka masih banyak memiliki keluarga yang berada di wilayah Karo Jae seperti di Langkat dan Deli Serdang.

sumber
:
  • enjoyed-kings.blogspot.com
  • tentangbatak.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
Read More...

Suku Devayan

suku Devayan
Suku Devayan, adalah salah satu suku minoritas di provinsi Aceh. Hidup di pulau Simalur (Simeulue) yang berada di sebelah barat pulau Sumatra. Suku Devayan ini mendiami kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

Secara ras, suku Devayan ini berbeda dengan suku Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi Aceh. Suku Devayan ini memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Devayan. Suku Devayan ini secara fisik mirip dengan suku Nias dan Mentawai yang mendiami kepulauan Nias di Sumatra Utara. Ciri-ciri kulit berwarna kuning, mata agak sipit, menjelaskan bahwa suku Devayan ini termasuk ke dalam ras mongoloid. Ciri-ciri ini dimiliki hampir seluruh penduduk yang mendiami pulau dan kepulauan di pesisir sebelah barat pulau Sumatra. Bahasa Devayan sendiri masih berkerabat dengan bahasa Nias, dari segi dialek dan perbendaharaan kata banyak terdapat kemiripan.
Saat ini bahasa Devayan, sedang terancam kepunahan, karena generasi muda suku Devayan sepertinya lebih suka berbicara menggunakan bahasa Aneuk Jamee yang menjadi bahasa pengantar di wilayah ini. Sedangkan bahasa Devayan sendiri hanya digunakan di rumah-rumah atau di kalangan suku Devayan saja.

Asal usul suku Devayan ini diperkirakan pada awal kedatangannya kira-kira 7000 tahun yang lalu, pada perjalanan migrasinya melintas dari sebelah barat pulau Sumatra dan tersebar di pulau-pulau yang berada di sebelah barat pulau Sumatra. Datang bersama-sama dengan suku-suku yang berada di pulau kepulauan di pesisir sebelah barat pulau Sumatra, seperti suku Nias, Mentawai dan Enggano.

Di pulau Simalur, suku Devayan hidup berdampingan dengan suku Haloban, suku Sigulai dan suku Lekon. Selain itu ada juga kelompok pendatang keturunan campuran Minangkabau dan Melayu yang telah tinggal lama di pulau Simalur tersebut, yang disebut suku Aneuk Jamee.

Suku Devayan saat ini mayoritas memeluk agama Islam. Agama Islam berkembang dengan kuat di pulau Simalur ini, yang menjadi agama mayoritas seluruh penduduk di pulau Simalur.

Suku Devayan kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan, dan juga bertani pada ladang tanah kering. Mereka juga menanam tanaman keras seperti kelapa, ubi dan lain-lain. Selain itu tidak sedikit dari masyarakat suku Devayan yang telah bekerja di sektor pemerintahan dan swasta, dan juga sebagai guru dan pedagang.


diolah dari 

  • protomalayans.blogspot.com
  • dan berbagai sumber


foto: ranselkosong.com
Read More...

Suku Sigulai

pantai Sigulai
Suku Sigulai, kadang disebut juga sebagai suku Salang, adalah suatu komunitas suku yang mendiami pulau Simalur bagian utara. Suku Sigulai ini sebagian besar bermukim di kecamatan Simalur Barat dan kecamatan Alafan. Mereka juga mendiami sebagian desa di kecamatan Salang, kecamatan Teluk Dalam dan kecamatan Simalur Tengah.

Suku Sigulai termasuk salah satu suku asli di kepulauan Simalur ini, bersama-sama dengan suku Devayan, Lekon dan Haloban. Tidak adanya sejarah asal usul suku Sigulai ini secara tertulis, sehingga tidak diketahui secara pasti asal usul suku Sigulai ini. Hanya saja beberapa perkiraan para penulis di beberapa situs di web, mengatakan bahwa suku Sigulai ini dahulu berasal dari tempat yang sama dengan suku Devayan, Lekon, Haloban dan Nias serta Mentawai. Karena secara fisik suku Sigulai ini termasuk ke dalam ras mongoloid yang dahulunya bermigrasi ke wilayah ini bersama-sama suku Nias, Mentawai, Devayan, Lekon dan Haloban, dan tersebar-sebar ke beberapa wilayah di pulau dan kepulauan di sebelah barat pulau Sumatra. Salah satunya suku Sigulai ini yang menetap di daerah ini sampai sekarang.

Masyarakat suku Sigulai mayoritas telah memeluk agama Islam yang begitu kuat mempengaruhi wilayah ini, sehingga beberapa seni-budaya suku Sigulai terasa nilai-nilai Islami nya.

Bahasa Sigulai, masih berkerabat dengan bahasa Devayan, juga dengan bahasa Lekon dan Nias. Walaupun berbeda tetapi masih terdapat kemiripan dalam perbendaharaan kata serta dialeknya. Bahasa Sigulai sendiri saat ini berada di tengah-tengah dominasi bahasa Aneuk Jamee yang menjadi bahasa pengantar di wilayah ini. Selain bahasa Aneuk Jamee, bahasa Aceh juga turut mempengaruhi kehidupan berbahasa suku-suku asli di pulau Simalur ini. Sehingga kalangan generasi muda suku Sigulai cenderung berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee dalam kehidupan pergaulannya. Bahasa Sigulai sendiri, tinggal diucapkan di wilayah perkampungan, di rumah-rumah dan kalangan suku Sigulai saja.

Kehidupan suku Sigulai dalam kesehariannya rata-rata sebagai nelayan dan sebagian memilih sebagai petani di ladang.

sumber:



  • harian-aceh.com
  • foto: obeytea.blogspot.com
  • wikipedia
  • protomalayans.blogspot.com dan sumber lain
Read More...

Suku Lekon

Suku Lekon, adalah suatu masyarakat adat yang terdapat di kecamatan Alafan kepulauan Simalur (Simeulue) di provinsi Aceh. Suku ini bermukim di desa Lafakha dan desa Langi.

Suku Lekon ini diperkirakan hadir di kepulauan Simalur ini bersama-sama dengan suku Devayan, Sigulai dan Haloban, juga beserta suku Nias, Mentawai dan Enggano, yang pada perjalanan migrasi bangsa Proto Malayan dari daratan Indochina pada sekitar 7000 tahun yang lalu. Tersebar-sebar di beberapa pulau dan kepulauan yang membentuk komunitas suku-suku tersendiri. Tidak diketahui secara pasti, apakah mereka dahulunya berasal dari satu komunitas atau memang sejak awal sudah menjadi beberapa etnis yang berbeda. Tetapi apabila dilihat dari kemiripan bahasa antara bahasa Lekon dengan bahasa Devayan, juga dengan bahasa Nias, diperkirakan dahulunya mereka berasal dari suatu tempat yang sama atau juga berasal dari satu etnis yang sama. Hanya saja, karena telah terpisah-pisah sekian lama, maka bahasa dan adat-istiadat mereka pun mengalami perubahan.

Secara fisik suku Lekon ini berbeda dengan suku Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi ini. Karena suku Lekon ini memiliki ciri-ciri fisik berkulit kuning dan bermata agak sipit, yang menunjukkan bahwa mereka termasuk ke dalam ras mongoloid, seperti suku Devayan, Sigulai, Haloban, Nias, Mentawai dan Enggano.
Bahasa Lekon sering dianggap sebagai dialek dari bahasa Devayan, karena terdapat banyak kemiripan dari perbendaharaan kata dan dialek. Bahasa Lekon, saat ini terdesak oleh bahasa Aneuk Jamee yang lebih mudah diucapkan, sehingga mempengaruhi generasi muda Lekon untuk lebih suka berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee yang menjadi bahasa pengantar di wilayah kepulauan Simalur ini. Suku Aneuk Jamee, adalah komunitas pendatang campuran suku Minang, Melayu dan Aceh, yang juga telah lama menetap di wilayah ini. Perkembangan suku Aneuk Jamee sangat pesat dalam berkembang biak, sehingga bahasa Aneuk Jamee pun pesat mempengaruhi kehidupan suku-suku asli di kepulauan Simalur ini. Masyarakat suku Lekon selain bisa berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee, mereka juga bisa berbicara dalam bahasa Devayan.

Masyarakat suku Lekon, biasanya dalam kegiatan sehari-hari hidup sebagai nelayan, tetapi ada juga yang lebih memilih untuk bertani di ladang. Selain itu mereka juga memelihara hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing dan sapi.

sumber:
  • dari berbagai sumber
  • protomalayans.blogspot.com dan wikipedia
Read More...

Suku Haloban

perkampungan nelayan suku Haloban
Suku Haloban, adalah suatu komunitas suku yang bermukim di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya berada di kecamatan Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak merupakan suatu kecamatan yang terdiri dari tujuh desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

Suku Haloban ini hidup di kepulauan Banyak, yang berada di pesisir sebelah barat pulau Sumatra. Mereka adalah penghuni asli di kepulauan Banyak ini. Secara fisik dan ras mereka berbeda dengan suku Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi Aceh. Mereka memiliki ras mongoloid, berkulit kuning dan bermata agak sipit, sangat mirip penduduk dari pulau Nias dan Mentawai.
Di pulau Banyak ini, suku Haloban hidup berdampingan dengan suku pendatang yang telah lama menetap di wilayah ini, seperti suku Aneuk Jamee dan suku Nias.

masyarakat Haloban
Suku Haloban berbicara dalam bahasa Haloban, yang masih berkerabat dekat dengan bahasa Devayan di pulau Simalur (Simeulue), dan juga dengan bahasa Nias di kepulauan Nias.  Bahasa Haloban sendiri saat ini  hampir tergeser oleh bahasa para pendatang yang semakin banyak memenuhi wilayah pulau Banyak ini. sehingga bahasa Haloban saat ini hanya digunakan di rumah-rumah atau di kalangan mereka sendiri. Sedangkan para generasi mudanya banyak yang lebih suka berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee atau bahasa Aceh.

Asal usul suku Haloban ini diperkirakan datangnya bersama-sama dengan nenek moyang suku Nias, Mentawai dan Enggano, juga dengan suku Devayan, Sigulai dan Lekon. Pada masa sekitar 7000 tahun yang lalu mendarat dan tersebar di pulau-pulau sebelah barat pulau Sumatra. Dapat dilihat dari struktur fisik dan bahasa terdapat banyak kemiripan. Hanya saja budaya suku Haloban saat ini sudah terpengaruh dari budaya Islam yang menggeser budaya asli suku Haloban.

Suku Haloban secara mayoritas telah memeluk agama Islam yang pada masa lalu begitu kuat mempengaruhi wilayah ini. Beberapa adat istiadat dan seni-budaya suku Haloban banyak dipengaruhi oleh budaya Islam, yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Aceh dan Minang.
Selain agama Islam yang menjadi mayoritas di pulau Banyak ini, terdapat juga agama Kristen yang dianut oleh suku Nias yang berada di desa Sialit. Walaupun di daerah ini terdapat dua kelompok agama, tetapi kerukunan beragama sangat terjaga dan harmonis di wilayah ini.

karamba ikan milik suku Haloban
Kehidupan sehari-hari suku Haloban ini adalah sebagai nelayan dan petani. Mereka menanam berbagai macam tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Selain itu mereka juga memelihara beberapa hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing dan sapi.

sumber:
  • harian-aceh.com
  • foto: kepulauanbanyak.blogspot.com
  • foto: acehoceancoral.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain
Read More...

Suku Nias

tradisi Lompat Batu Nias
Suku Nias bermukim di Pulau Nias yang terletak di Samudera Hindia di bagian Barat Pulau Sumatera dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Saat ini wilayah Nias masih tergabung dalam wilayah administrative Provinsi Sumatera Utara. Wilayah administrative Pulau Nias berstatus Wilayah Tk. II Kabupaten yang terdiri dari Kabupaten Nias dan pemekarannya Kabupaten Nias Selatan.

Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul, suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Mitos tersebut mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Tahta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Penelitian Arkeologi dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan seperti yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa manusia di Pulau Nias sudah ada sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau menurut Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
Tapi baru-baru ini teori bahwa suku Nias berasal dari Vietnam diragukan, karena ditemukan bukti (Kompas) bahwa suku Nias berasal dari Formosa Taiwan.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Suku Nias memiliki keterkaitan dengan Suku Batak secara umum. Akan tetapi hal ini masih samar-samar, karena tidak ada data sejarah yang mendukung kekerabatan antara suku Nias dan suku Batak, hanya berdasarkan perjalanan migrasi Proto Malayan saja yang mungkin bisa dihubungkan.

Di pesisir barat pulau Sumatra, terdapat beberapa kepulauan dan pulau-pulau kecil yang juga didiami oleh beberapa suku, yang sebenarnya masih berkerabat langsung dengan suku Nias. Beberapa kesamaan fisik dan bahasa menjadi pertimbangan kuat bahwa dahulunya pernah terjadi hubungan asal muasal dan kekerabatan atau memiliki kesamaan asal usul, tempat maupun nenek moyang.

Kerabat Dekat Nias tersebut adalah sebagai berikut :

Suku Mentawai
Suku Nias memiliki banyak kemiripan dan kekerabatan dari segi ras etnis dan budaya serta akar bahasa derah dengan suku Mentawai yang wilayahnya tersebar di kepulauan Mentawai yang saat ini termasuk Provinsi Sumatera Barat. Penyebaran Suku Mentawai adalah di Kepulauan Mentawai yang mencakup Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, dan beberapa pulau kecil-kecil di sekitarnya.

Banyak unsur budaya, adat istiadat, dan akar bahasa daerah Mentawai yang diperkirakan berasal dari suatu rumpun kuno yang sama dengan Nias. Disamping itu ciri Marga yang ada di Mentawai banyak yang mirip dengan marga yang umum digunakan masyarakat Nias. Kemiripan itu terlihat lebih bersifat varian bentuk penulisan dan pengucapan dari marga yang umum di Nias.

Suku Enggano
Selain dengan Suku Mentawai kekerabatan Suku Nias ditemukan juga dengan Suku Enggano yang wilayahnya terletak di Pulau Enggano yang saat ini termasuk Provinsi Bengkulu. Berbagai kemiripan etnis dan unsur budaya mereka mendukung temuan dugaan kekerabatan diantara mereka dengan Suku Nias dan Mentawai di masa yang silam. Diperkirakan penyebaran Nenek Moyang mereka di sepanjang kepulauan di sebelah Barat Pulau Sumatera berlangsung ratusan, ribuan tahun yang lalu hingga mencapai wilayah Pulau Enggano.

Suku-suku di pulau Simalur
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa penduduk asli Pulau Simalur yang terletak di sebelah pantai Barat Aceh juga berkerabat dengan etnis Nias. Pendapat ini mungkin benar jika melihat rangkaian kepulauan di sepanjang Pantai barat Pulau Sumatera umumnya dihuni oleh etnis yang secara budaya agak primitive dan sangat tertutup dalam perjalanan sejarah yang panjang. Kondisi saat ini masyarakat Simalur telah mengadopsi banyak hal dalam aspek kehidupannya yang khas Aceh. Bilamana ditilik dari bahasa suku-suku di pulau Simalur (suku Simalur, suku Devayan, suku Haloban, Lekon dan Sigulai) sebenarnya sangat banyak kemiripan dengan bahasa yang ada di pulau Nias. Selain itu suku-suku di pulau Simalur juga sangat mirip secara fisik dengan suku Nias.


referensi:
http://sains.kompas.com/read/2013/04/16/09081323/Asalusul.Orang.Nias.Ditemukan
Read More...

Suku Batak Melayu Langkat

Kabupaten Langkat, adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatra Utara. Kabupaten Langkat ini dihuni oleh mayoritas suku Melayu yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Langkat. 

Tari Zapin
Batak Melayu Langkat
Ada satu hal yang unik terjadi di kabupaten Langkat ini. Di kabupaten Langkat ini terdapat suatu kelompok masyarakat yang mengaku sebagai Melayu tetapi dalam tubuh mereka mengalir darah batak, dan nama marga di belakang nama depan mereka. Menurut penuturan beberapa masyarakat di wilayah ini, bahwa dahulunya nenek moyang mereka berasal dari batak. Tetapi mereka sendiri tidak tahu berasal dari batak yang mana. Selain itu, beberapa marga mulai tidak dipakai lagi, karena mereka telah merasa menjadi Melayu dan telah menyatu dengan budaya dan adat-istadat Melayu. Bagi mereka, dalam budaya Melayu, identitas marga tidaklah terlalu penting. Sehingga dalam keseharian mereka, identitas marga boleh dipakai, atau dihilangkan sama sekali, tergantung pilihan mereka masing-masing. Menurut mereka, identitas marga ini hanya sekedar untuk membedakan kelompok mereka dengan kelompok Melayu lainnya, dan juga agar tidak tersesat dari garis keturunan.

Beberapa marga yang terdapat di kabupaten Langkat ini adalah:
  • Kinayam
  • Sibayang
  • Gerning
  • Lambosa
  • Berastempu
  • Ujung Pinayungan
  • Merangin angin
  • Pasaribu
  • dan lain-lain
Konon menurut penuturan masyarakat di kabupaten Langkat ini, bahwa dahulunya salah seorang istri Raja Langkat berasal dari kelompok marga tersebut.

Apakah kelompok marga-marga di kabupaten Langkat tersebut berasal dari suku-suku batak lainnya, atau memang suatu komunitas tersendiri, atau mereka adalah keturunan dari orang-orang Kerajaan Aru/Haru, yang melarikan diri ke wilayah Langkat.

Apabila dilihat dari marga-marga yang dimiliki oleh masyarakat Melayu di kabupaten Langkat ini, sepertinya masih memiliki sedikit unsur kekerabatan dengan marga-marga batak dari suku Karo, Toba, Pakpak dan Nias. Seperti Pinayungan dengan marga Pinayung dari Pakpak, Gerning dengan marga Gurning dari Toba, Karo dan Alas, Lambosa dengan marga dari Nias, Merangin-angin dengan marga Perangin-angin dari Karo, Ujung dengan marga Ujung dari Toba dan Pakpak serta Sibayang dengan marga Sebayang dari Karo.
Bisa jadi dahulunya mereka berasal dari suku-suku batak yang bermigrasi ke wilayah kabupaten Langkat ini dan setelah sekian lama menetap di wilayah ini, kemudian mereka pun berbaur dan bergabung dalam budaya dan adat-istiadat Melayu, yang mana akhirnya keturunan-keturunannya pun menganggap diri mereka telah Melayu atau telah menjadi Melayu. Walaupun begitu, sebagian dari mereka masih menyematkan nama marga di belakang nama depan mereka sampai saaat ini.

diolah dari berbagai sumber
Read More...

Suku Mondoiliq

Suku Mondoiliq adalah salah satu dari 3 kelompok etnis tua (Suku Pungkut, suku Kamak Kepuh dan suku Mondoiliq) yang pernah hidup dan bermukim di wilayah Sibinail kabupaten Tapanuli Selatan Sumatra Utara.

Kehadiran suku ini di pulau Sumatra diperkirakan sejak awal abad Masehi. Memasuki hutan pedalaman pulau Sumatra dan hidup secara berkelompok, nomaden dan selalu mencari tempat baru untuk dijadikan pemukiman sementara. Suku ini hidup berdampingan dengan 2 suku lainnya pada satu wilayah, yang berada di hutan pedalaman. Pada awalnya suku ini hidup secara nomaden menjelajah hutan-hutan belantara pulau Sumatra. Tidak diketahui secara pasti, mengapa ketiga suku ini memilih hidup pada satu wilayah. Diperkirakan mereka berasal dari rumpun yang sama, dan masih memiliki hubungan kekerabatan. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan pada suatu wilayah.

Ketiga suku ini hidup dengan mengamalkan agama animisme dan dinamisme, percaya terhadap roh-roh di alam serta benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana nasib hidup mereka. Mereka juga percaya bahwa roh-roh memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka.

Suku Mondoiliq hidup dengan memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, seperti berburu binatang liar, serta menangkap ikan pada sungai-sungai yang melintas dekat dengan pemukiman mereka.
Nama "Mondoiliq" sekilas mirip dengan "Mandailing". Apakah suku ini ada hubungannya dengan suku Mandailing? Ya.. pasti setidaknya, langsung atau tidak langsung pastilah ada hubungannya. Mungkin suku Mondoiliq ini berperan besar untuk hadirnyanya suku Mandailing di Tapanuli Selatan.

Hutan pedalaman tanah Sumatra pada masa itu, sering terjadi peperangan antar suku-suku pedalaman yang melebarkan wilayah kekuasaan. Sehingga sering terjadi peperangan yang menyebabkan suku-suku kecil tercerai berai melarikan diri masuk lebih dalam ke hutan-hutan Sumatra.
Suku Mondoiliq sebagai suku-suku kecil, tidak tahan terhadap tekanan dari suku-suku lain yang lebih dominan, terpisah dan tersebar menyelamatkan diri dan diperkirakan suku Mondoiliq bersama suku KamakKepuh dan Pungkut telah membaur dengan suku-suku lain yang lebih dominan, seperti suku Ulu (Alak Ulu), suku Lubu, atau kelompok etnis Batak Purba yang tersebar di hutan-hutan pedalaman serta kelompok suku Melayu Purba yang juga hidup secara nomaden di hutan pedalaman Sumatra.

diolah dari berbagai sumber
Read More...

Suku Pungkut

Suku Pungkut adalah salah satu dari 3 kelompok etnis tua (Suku Pungkut, suku Kamak Kepuh dan suku Mondoiliq) yang pernah hidup dan bermukim di wilayah Sibinail kabupaten Tapanuli Selatan Sumatra Utara.


"Bagas"
Rumah adat suku Pungkut
Kehadiran suku ini di pulau Sumatra diperkirakan sejak awal abad Masehi. Memasuki hutan pedalaman pulau Sumatra dan hidup secara berkelompok, nomaden dan selalu mencari tempat baru untuk dijadikan pemukiman sementara. Suku ini hidup berdampingan dengan 2 suku lainnya pada satu wilayah, yang berada di hutan pedalaman. Pada awalnya suku ini hidup secara nomaden menjelajah hutan-hutan belantara pulau Sumatra. Tidak diketahui secara pasti, mengapa ketiga suku ini memilih hidup pada satu wilayah. Diperkirakan mereka berasal dari rumpun yang sama, dan masih memiliki hubungan kekerabatan. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan pada suatu wilayah.

Ketiga suku ini hidup dengan mengamalkan agama animisme dan dinamisme, percaya terhadap roh-roh di alam serta benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana nasib hidup mereka. Mereka juga percaya bahwa roh-roh memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka.

Suku Pungkut hidup dengan memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, seperti berburu binatang liar, serta menangkap ikan pada sungai-sungai yang melintas dekat dengan pemukiman mereka.

Hutan pedalaman tanah Sumatra pada masa itu, sering terjadi peperangan antar suku-suku pedalaman yang melebarkan wilayah kekuasaan. Sehingga sering terjadi peperangan yang menyebabkan suku-suku kecil tercerai berai melarikan diri masuk lebih dalam ke hutan-hutan Sumatra.
Suku Pungkut sebagai suku-suku kecil, tidak tahan terhadap tekanan dari suku-suku lain yang lebih dominan, terpisah dan tersebar menyelamatkan diri dan diperkirakan suku Pungkut bersama suku Kamak Kepuh dan Mondoiliq telah punah dan membaur dengan suku-suku lain yang lebih dominan, seperti suku Ulu, suku Lubu, suku Mandailing. atau dengan kelompok suku Batak Purba yang tersebar di hutan-hutan pedalaman serta kelompok suku Melayu Purba yang juga hidup secara nomaden di hutan pedalaman Sumatra.

diolah dari berbagai sumber
Read More...

Suku Kamak Kepuh

Suku Kamak Kepuh adalah salah satu dari 3 kelompok etnis tua (Suku Pungkut, suku Kamak Kepuh dan suku Mondoiliq) yang pernah hidup dan bermukim di wilayah Sibinail kabupaten Tapanuli Selatan Sumatra Utara.

Kehadiran suku ini di pulau Sumatra diperkirakan sejak awal abad Masehi. Memasuki hutan pedalaman pulau Sumatra dan hidup secara berkelompok, nomaden dan selalu mencari tempat baru untuk dijadikan pemukiman sementara. Suku ini hidup berdampingan dengan 2 suku lainnya pada satu wilayah, yang berada di hutan pedalaman. Pada awalnya suku ini hidup secara nomaden menjelajah hutan-hutan belantara pulau Sumatra. Tidak diketahui secara pasti, mengapa ketiga suku ini memilih hidup pada satu wilayah. Diperkirakan mereka berasal dari rumpun yang sama, dan masih memiliki hubungan kekerabatan. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan pada suatu wilayah.

Ketiga suku ini hidup dengan mengamalkan agama animisme dan dinamisme, percaya terhadap roh-roh di alam serta benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana nasib hidup mereka. Mereka juga percaya bahwa roh-roh memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka.

Suku Kamak Kepuh hidup dengan memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, seperti berburu binatang liar, serta menangkap ikan pada sungai-sungai yang melintas dekat dengan pemukiman mereka.

Hutan pedalaman tanah Sumatra pada masa itu, sering terjadi peperangan antar suku-suku pedalaman yang melebarkan wilayah kekuasaan. Sehingga sering terjadi peperangan yang menyebabkan suku-suku kecil tercerai berai melarikan diri masuk lebih dalam ke hutan-hutan Sumatra.
Suku Kamak Kepuh sebagai suku-suku kecil, tidak tahan terhadap tekanan dari suku-suku lain yang lebih dominan, terpisah dan tersebar menyelamatkan diri dan diperkirakan suku Kamqak Kepuh bersama suku Pungkut dan Mondoiliq telah punah dan membaur dengan suku-suku lain yang lebih dominan, seperti suku Ulu, suku Lubu, kelompok suku Batak Purba yang tersebar di hutan-hutan pedalaman serta kelompok suku Melayu Purba yang juga hidup secara nomaden di hutan pedalaman Sumatra.

diolah dari berbagai sumber
Read More...

Batakhaus; Rumah Adat Batak Berdiri Megah di Jerman

Ada Rumah Adat Batak di Jerman
Batakhaus
Rumah adat Batak di Werpeloh, Jerman. (Ideaonline.co.id, panoramio.com)
Tak hanya ada di Indonesia, rumah adat Batak pun eksis di Werpeloh, Jerman. Jika di Indonesia rumah adat ini biasa disebut dengan istilah Rumah Bolon, di Jerman rumah ini disebut Batakhaus. Batakhaus sendiri telah berdiri sejak tahun 1978 atas inisiatif pastor Matthaus.

Sama seperti dengan Rumah Bolon di Indonesia, Batakhaus juga memilik bentuk persegi empat dan seperti rumah panggung. Ya, bagian depan rumah - tepat terletak di tengah-tengah badan rumah terdapat tangga yang menjadi akses untuk masuk ke dalam rumah.

Lalu, rumah adat Batak di Jerman ini juga ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Uniknya, atap rumah berbentuk pelana kuda. Ornamen pada rumah pun merujuk ornamen yang sering digunakan oleh etnis Batak Toba.

Rumah Batak di musim salju, pemandangan yang indah
Batakhaus di Jerman (Ideaonline.co.id, panoramio.com)

Rumah dibagi menjadi 3 zona, yaitu atas, tengah, dan bawah. Bagian atas untuk roh leluhur, bagian tengah untuk keluarga, dan bagian bawah untuk hewan peliharaan. Material yang digunakan untuk membangun Batakhaus berasal dari bahan setempat seperti batu Hümmlinger, dinding dari kayu ek, dan ilalang untuk atap.

Walaupun begitu, Batakhaus ini pun sama dengan “nenek moyang”-nya di Indonesia. Rumah yang satu ini memang bukan untuk rumah tinggal. Sekarang, rumah adat Batak ini dijadikan sebagai museum dan objek wisata setempat.
Orang Batak pun harus bangga , karena yang terkenal di luarnegeri tidak hanya Bali, tapi budaya Batak pun ternyata sangat menarik perhatian bangsa-bangsa lain di dunia. Otomatis Indonesia pun ikut terkenal dan berbangga hati ketika melihat budayanya go internasional . Tapi, hal ini jangan menjadikan kita lengah! Sebagai anak bangsa, sudah sepatutnya kita menjaga “permata” dari Indonesia.

source:
- IdeaOnline.com- http://nationalgeographic
Read More...

Jejak Parmalim di Medan

Ini sepenggal fakta tentang perjuangan sekelompok kaum minoritas agar diakui kepercayaannya. Jauh sebelum sebelum masuknya agama Kristen dan Islam, mereka penganut agama Parmalim telah bereksistensi.

Penganut Parmalim jumlahnya relatif kecil. Saat ini di Kota Medan, ada sekitar 600 orang. Mereka terus gigih berjuang agar eksistensinya tidak hilang. Ironi memang, 63 tahun lamanya Indonesia merdeka dan sudah selama itu pula Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan beragama; tapi sampai kini mereka belum bisa menikmati kemerdekaan berkeyakinan. Mereka bahkan sudah seperti suatu komunitas suku tersendiri yang setia  menjalankan keyakinan mereka.
Tapi, semangat penganut Parmalim tidak padam. Berjuang bagi penganut Parmalim bukan hal baru. Tercatat tokoh besar yang juga menjadi penganut Parmalim adalah pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII pejuang yang gigih menentang agresi Kolonial.
Sebenarnya, Undang-undang No 23 Tahun 2006 telah memberikan kesempatan kepada Parmalim untuk dicatatkan sebagai warga Negara melalui kantor catatan sipil, namun sayangnya mereka tidak diberi kesempatan menuliskan identitas sebagai Parmalim di Kartu Tanda Penduduk sehingga harus memilih nebeng dengan agamaA, B, C, D atau E. Kasihan juga, padahal merekalah tuan rumah agama di sumatra utara.
Nasib penganut Parmalim juga semakin tersingkir. Masyarakat khususnya Batak masih menganggap Parmalim aliran sesat. Bahkan, lembaga formal agama masih memberikan stigma buruk kepada Parmalim seperti tidak sesuai dengan jalan kebenaran Tuhan, menyembah berhala (paganisme) dan sebagainya.
Parmalim adalah kepercayaan pertama orang Batak sebelum masuknya agama lain ke kawasan Tapanuli. Pimpinan Parmalim saat ini adalah RAJA MARNANGKOK NAIPOSPOS. Mereka tak punya rumah ibadah, atau disebut dengan RUMAH PARSAKTIAN. Persembahyangan masih dilakukan di rumah salah pimpinan Parmalim.
Pada 2005 lalu, sebetulnya pengangut Parmalim berencana membangun Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Ujung Medan. Tapi rumah itu gagal dibangun karena ada penolakan dari warga sekitar.
Pembangunan Ruma Parsaktian tak ayal terbengkalai. Rumah seluas dua kali lapangan bulu tangkis itu dikotori alang-alang, di dalam dan luarnya. Tembok yang sempat dibangun sebagian rubuh. Bahkan pembangunan gedung yang sebetulnya sudah 70 persen selesai itu, sebagian atapnya sudah terlihat copot.

AJARAN-AJARAN PARMALIM.
Budaya Batak sejak dulu sudah memiliki penanggalan istimewa. Hari dihitung setiap bulan sebanyak 29 dan 30 hari yang dihitung atas dasar pengamatan terhadap “parlangitan” siklus bulan dan bintang.
Masing-masing hari beda sebutannya. Dimulai hari pertama yaitu… 1. Artia 2. Suma 3. Anggara 4. Muda 5. Boraspati 6. Singkora 7. Samisara 8. Artia ni Aek 9. Suma ni Mangadop 10.Anggara Sampulu 11. Muda ni mangadop dan seterusnya.
Bulan terakhir setiap tahun dinamai HURUNG (KURUNG) dan hari ke 29 setiap bulan juga disebut Hurung. Setiap hari “hurung” setiap bulannya biasanya dihindari kegiatan yang diharapkan akan berkembang, misalnya menjemput ternak untuk peliharaan, tabur benih, melakukan acara pengesahan perkawinan dan sebagainya.
Mereka biasanya melakukan pendekatan terhadap TUHAN atau disebut DEBATA MULAJADI NABOLON yang artinya pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta.
Pendekatan terhadap Tuhan biasanya memuncak pada akhir bulan saat dilaksanakan pensucian diri. Setiap bulannya pada hari “hurung” ini manusia akan “ringkar” artinya keluar dari keterkungkungan.
Pada setiap akhir tahun mendapat perhatian yang lebih khusus. Umumnya kegiatan secara total dihentikan. Tidak melakukan tanam benih, tidak melakukan transaksi dagang, tidak saling memberi dan menerima sesuatu barang untuk usaha pengembangan. Tidak melakukan “parhataan” pembahasan atas semua aspek kehidupan bersama. Mereka melakukan kegiatan sendiri, menyendiri dalam kegiatan satu keluarga. Mereka membatasi diri dari hubungan duniawi. Hal ini disebut “MARSOLAM DIRI”, membatasi diri dari hal keduniaan.
Tujuan hidup manusia adalah menuju kepada TUHAN, “SUNDUNG NI HANGOLUAN” adalah ujung dari tujuan kehidupan. Arti kehidupan digambarkan dengan “HARIARA SUNDUNG DILANGIT” yang biasa diukirkan pada sisi rumah Batak, yang mengartikan pohon kehidupan yang tajuknya semakin mengerucut kearah “atas” sebagai simbol keberadaan.
Sejak tahun 1910, penganut Parmalim memperingati “NAPAET”. Napaet arti harafiahnya adalah gabungan dari tumbuhan yang mengandung pahit, asam, pedas, kelat dan asin.
Napaet adalah simbol penderitaan para pengikut Parmalim. Napaet juga merupakan upaya mereka menegakkan hukum kebenaran. Dua bagian pengertian khusus Napaet.
Pertama , karena kesetiaannya mengikuti ajaran Parmalim sehingga sering mengalami penindasan oleh orang-orang disekitarnya, terfitnah dan dituding “sesat”. Kedua, adalah akibat dari kesalahannya sendiri terhadap hukum yang telah ditegakkan parmalim, yang melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan alam semesta dan tatanan kemanusiaan. Ini disebut “dosa”.
Dosa harus dimohonkan pengampunan kepada Tuhan pada akhir tahun, bulan dan hari hurung. Napaet dijalani dengan berpuasa. Tidak mengkonsumsi makanan 24 jam sehingga perilaku ini disebut “MARSOLAM DIRI”, atau membatasi diri dari tuntutan duniawi.
Setelah puasa, hari berikutnya adalah melaksanakan “RINGKAR” menerima anugerah Tuhan berupa ampunan. Pada hari itu penganut Parmalim mengkonsumsi “MANGAN NATONGGI”. Yaitu makanan makanan yang manis-manis secara bersama-sama untuk mengekspresikan kebahagiaan.
Hari Raya Batak adalah PAMELEON BOLON. Yang artinya mengucap syukur Kepada MULAJADI NABOLON atas anugrah sepenjang tahun yang diberikan. Yaitu pada bulan “SIPAHAOPAT” saat penduduk sudah selesai memetik hasil panen. Persembahan akbar disiapkan. Raja lah yang menetapkan hari raya tersebut. Makanan yang dihidangkan di antaranya: Kerbau pilihan yang memiliki empat pusar dan tanduk melingkar, gemuk dan tegar.
Pada saat itu, tokoh agama menghaturkan rasa terima kasih kepada MULAJADI NABOLON menghaturkan sembah, mengucap syukur atas anugrah sepenjang tahun. Kaum parmalim menghantar sajian yang ditata diatas “LANGGATAN” altar persembahan. Diiringi tarian berirama musik tradisi.
KESIMPULAN
Parmalim adalah kepercayaan asli etnis Batak yang hingga kini masih eksis. Kepercayaan asli etnis Batak itu, sangat dekat hubungannya dengan tradisi dan simbol-simbol agama. Parmalim bisa jadi merupakan ajaran yang usianya sudah ribuan tahun dan mengalami asimilasi dan difusi dengan agama-agama lain.
Tercatat saat ini penganut kepercayaan Parmalim memiliki 360 orang dukun yang berfungsi sebagai pembawa upacara keagamaan. Dari 360 dukun itu, separuh di antaranya (180 orang) menggunakan bacaan pembuka dan penutup mantra (tabas). Pembukaan mantra di antaranya; “BINSUMILLAH DIRAKOMAN DIRAKOMIN” dan penutupnya “YASA YASU YAUSA.”
Dalam sejarah disebutkan Raja pertama beretnis Batak bernama Raja Makoeta atau Raja Manghuttal bergelar Sisingamangaraja I yang berkuasa sekira tahun 1550 M. Kekuasaannya hingga ke Aceh dan Minangkabau. Sisingamangaraja I merupakan kemenakan Raja Uti, penguasa Barus. Raja Makoeta merupakan panglima Raja Uti ketika melawan Portugis yang hendak menguasai Barus.
Sisingamangaraja I itu mendirikan kerajaan baru berpusat di Bakkara. Antara Barus dan Bakkara terjadi hubungan persahabatan yang erat. Itu ditandai dengan dibuatnya jalan menghubungkan kedua kerajaan itu.
Dalam menjalankan pemerintahannya Sisingamangaraja I berpedoman pada sejumlah pegangan spiritual bernuansa monotheistis. Misalnya, menyucikan diri, tidak memakan darah dan daging yang tidak disembelih (mate garam). Tidak menenggak minuman yang memabukkan.
Ada beberapa alasan kenapa Parmalim harus menghadapi tekanan keras yang membuat kepercayaan asli itu kian meredup. Pertama, keyakinan monotheisme Parmalim sangat bertolak belakang dengan keyakinan mayoritas etnis Batak modern.
Kedua, kebijakan pemerintah dan agama-agama yang mendominasi di tanah air tidak memberi ruang bagi eksistensi berbagai aliran kepercayaan yang ada, menyebabkan Parmalim dan kepercayaan lainnya terpinggirkan.
Sebagai sebuah warisan budaya spiritual masa lalu di negeri ini, Parmalim seharusnya dipandang sama dengan aliran-aliran kepercayaan yang ada. Berilah ruang lebih terbuka kepada penganut Parmalim menunjukkan eksistensinya di tengah pergaulan antar pemeluk agama. Semestinya toleransi beragama diberikan kepada semua keyakinan, agar tidak muncul prasangka toleransi beragama digunakan untuk kepentingan sempit agama tertentu saja. Mungkin baik juga kalau penganut agama Parmalim ini diberi kebebasan bragama selayaknya agama lain.

http://ilmupelet-asmara.blogspot.co.id/2014/03/suku-parmalim-yang-terasingkan.html
Read More...