Suku Rao


Suku Batak Rao, adalah suatu kelompok masyarakat yang berdiam di sekitar perbatasan provinsi Sumatra Utara dan Sumatra Barat hingga ke wilayah kabupaten Pasaman di provinsi Sumatra Barat.

Masyarakat suku Rao hidup di antara beberapa kelompok etnis besar, yaitu suku Batak Mandailing, Batak Padang Lawas di sebelah utara, suku Melayu Riau di sebelah timur dan suku Minangkabau di sebelah selatan. Uniknya suku Rao hidup dengan budaya yang berbeda dengan kelompok etnis lainnya. Mereka memiliki tradisi, budaya dan bahasa sendiri.

Menurut cerita dari masyarakat Rao, mereka telah bermukim di wilayah ini sejak abad 5 Masehi. Sedangkan asal-usul suku Rao tidak diketahui secara pasti. Tapi dilihat dari struktur fisik suku Rao sepertinya masih berkerabat dengan orang Batak Mandailing dan orang Batak Padang Lawas. Berdasarkan cerita dari orang Mandailing, bahwa orang Rao ini sebenarnya masih keturunan Mandailing, karena sejak berabad-abad silam arus perantau dari tanah Mandailing bermigrasi ke wilayah Sumatra Barat, yang membentuk suatu etnis bernama suku Rao. Tetapi, menurut penuturan beberapa masyarakat Rao, bahwa suku Rao adalah komunitas tersendiri, yaitu suku Rao, berbeda dengan Batak Mandailing, bukan Minangkabau dan juga bukan Melayu, walaupun sebagian dari mereka tidak menyangkal bahwa nenek moyang mereka mungkin saja berasal dari tanah Batak Mandailing. Dalam masyarakat Rao terdapat beberapa marga yang mungkin masih terkait hubungan dengan marga suku Batak Mandailing, seperti marga Mandahiling, Mandailing, Nasution, Lubis dan lain-lain.
Secara fisik orang Rao bisa dikatakan masih serumpun dengan etnis Batak, tapi dari segi bahasa sepertinya bahasa Rao berbeda dengan bahasa Batak. Walaupun terdapat beberapa kemiripan dengan bahasa Batak Mandailing.

Dari beberapa tulisan yang membahas tentang awal keberadaan orang Rao, dikatakan bahwa orang Rao adalah merupakan keturunan campuran dari etnis Lubu sebagai penghuni awal daerah ini dan orang Mandailing sebagai pendatang di wilayah ini. Dari kedua etnis inilah terjadinya masyarakat Rao seperti sekarang ini.
Wilayah pemukiman suku Rao yang bertetangga dengan masyarakat Melayu Riau dan masyarakat Minangkabau secara tidak langsung ikut mempengaruhi budaya mereka.

Usulan lain mengatakan bahwa orang Rao berasal dari suku Lubu yang datang dari negeri Champa. Tapi dari beberapa ulasan tentang orang Lubu, bahwa orang Lubu sebenarnya memiliki ras Weddoid yang berbeda dengan orang Champa yang memiliki ras Mongoloid. Sedangkan dilihat dari struktur fisik orang Rao saat ini adalah termasuk ras Mongoloid. Jadi usulan ini mungkin masih kurang kuat.

Wilayah Rao berada dalam lingkaran Bukit Barisan meliputi berbagai daerah seperti Huta Godang, Panti, Padang Gelugor, Langsat Kadap, Lubuk Layang, Kubu Sutan, Sungai Ronyah, Selayang dan Muara Sipongi (disebut dengan Rao versi lama) yang terletak di tengah pulau Sumatera.

Orang Rao saat ini masih tetap mengamalkan adat resam dan budaya asli Rao. Budaya Rao yang paling terkenal ialah bojojak, botatah atau adat pantang tanah. Anak-anak Rao tidak dibolehkan menyentuh tanah sebelum menjalankan upacara bojojak ini.

rumah tradisional Rao

Bahasa Rao yang merupakan bahasa yang digunakan masyarakat Rao termasuk ke dalam Rumpun Bahasa Malayo-Polynesian. Bahasa dan budaya Rao agak berbeda dengan Tapanuli, Minangkabau dan Riau Daratan.
Menurut JB Neumans dalam buku berjudul "Sejarah Mapat Tunggul", dikatakan bahwa bahasa yang digunakan di Mapat Tunggul adalah bahasa melayu dialek Rao kecuali di Muaro lebih murni tapi masih berhubungan dengan bahasa yang dipakai orang Rao.
Rao sebagai daerah perbatasan tidak dapat menutup diri dari kehadiran para teangga yang memasuki daerahnya seperti halnya orang Batak Mandailing, orang Melayu Riau, maupun daerah lainnya yang masih berada dalam kawasan Pasaman seperti Bonjol dan Lubuk Sikaping. Kehadiran para tetangga tentu saja merubah khasanah Budaya maupun Bahasa. Dengan sendirinya perpaduan berbagai macam ras dan suku bangsa tersebut, melahirkan satu bahasa yang agak berbeda dengan daerah lainnya.

Bahasa Rao sebenarnya adalah merupakan bahasa yang sangat berkerabat dengan bahasa Melayu, oleh karena itu bisa dikatakan bahasa Rao merupakan bahasa Melayu. Bahasa Rao berbeda dengan bahasa Batak dan bahasa Minangkabau. Menurut pendapat para peneliti bahasa bahwa bahasa Rao merupakan bahasa Melayu baku (cikal bakal bahasa Melayu sekarang ), yang berarti lebih tua dari bahasa Melayu yang ada sekarang ini.
Tapi sebenarnya tidak diketahui secara pasti apakah bahasa yang digunakan oleh orang Rao saat ini adalah bahasa asli mereka, atau merupakan bahasa yang terbentuk akibat dominasi bahasa-bahasa lain di sekitar wilayah mereka.

Cerita tentang budaya Rao justru banyak terdapat dalam catatan sejarah yang ditulis oleh orang Belanda. Di Rao terdapat sebuah benteng Amorogen sebagai saksi pertempuran sengit antara penjajah Belanda melawan pribumi yang dipimpin oleh Tuanku Rao (si Pongki Nangolngolan Sinambela) yang merupakan putra dari Sisingamangaraja X. Rao di masa lalu merupakan sebuah kota yang besar, pusat perekonomian dengan terdapatnya tambang emas terbesar di Sumatera pada waktu itu. Letnan 1 Infanteri J.C. Boelhouwer, dalam tulisannya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Pemerintah Daerah Pasaman. Dalam buku tersebut diceritakan tentang penduduk suku Rao di Sumatera.
Menurut cerita orang Rao mereka adalah bangsa yang tua, ini dibuktikan dengan terdapatnya berbagai bukti arkeologis barang purbakala yang berumur ribuan tahun di Rao. Seperti candi Tanjung Medan di Petok Panti, Candi Pancahan, Arca Dwarapala Padang Nunang, Prasasti Lubuk Layang dan Candi Bukit Rao yang ditemukan oleh Amran Datuk Jorajo.

Semenjak kedatangan Belanda ke Rao yang berjaya mengalahkan pasukan Paderi beserta pemimpinnya seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai sampai sekarang Rao telah banyak dimasuki oleh pendatang dari Tapanuli dan Minangkabau. Masyarakat suku Rao sendiri ternyata banyak yang berada di Medan, Palembang, bahkan di Malaysia. Sementara di tanah Rao sendiri telah banyak dimasuki oleh pendatang yang bukan suku Rao untuk mengisi kekosongan yang terdapat di Rao.

Sekitar 500 tahun yang lalu, sebagian besar masyarakat suku Rao banyak yang hijrah ke Malaysia, terutama di Perak, Negeri Sembilan, Pahang, Selangor dan Kelantan. Nama-nama kampung asli merekapun terbawa menjadi nama tempat di tanah perantauan mereka. Di Malaysia, orang Rao sering disebut sebagai orang Rawa. Dalam kehidupan keseharian mereka di Malaysia, orang Rao tetap kokoh mempertahankan bahasa, adat istiadat, budaya dan hubungan kekerabatan dengan kampung asal nenek moyang mereka di Rao.

Daerah Rao adalah daerah yang strategis terletak di tengah pulau Sumatera dan dahulunya daerah ini menghasilkan emas, beras, kerbau kopi dan rempah-rempah, sehingga sejak dulu daerah Rao dipenuhi oeh pedagang dari berbagai negara seperti India, Arab, China dan bangsa-bangsa dari daratan Indochina, yang masuk ke Rao melalui sungai Rokan (Sumpu).

sumber:
protomalayans: suku batak rao
dan beberapa sumber lain
Read More...

Suku Batak Pakpak

Suku Batak Pakpak, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di beberapa kabupaten di provinsi Sumatra Utara dan di sebagian wilayah provinsi Nanggroe Aceh.

suku Batak Pakpak (gkppd)
Orang Batak Pakpak, berbicara dalam bahasa sendiri, yaitu bahasa Pakpak. Sedangkan di Kelasen bahasa Pakpak disebut sebagai bahasa Dairi. Bahasa Pakpak ini merupakan cabang dari rumpun bahasa Austronesia, yang termasuk dari salah satu cabang dari rumpun bahasa Batak. Bahasa Batak Pakpak memiliki kekerabatan dengan bahasa Batak Karo, tapi bahasa Pakpak juga banyak mirip dengan bahasa Batak Toba. Pemakai bahasa Pakpak sendiri mengalami penurunan diakibatkan banyaknya arus pendatang di luar suku Pakpak yang memasuki wilayah mereka. Para generasi muda semakin enggan menggunakan bahasa Pakpak dalam pergaulan sehari-hari. Perkawinan dengan suku di luar suku Pakpak, serta pengaruh bahasa-bahasa dari para pendatang turut mempengaruhi kelestarian bahasa Pakpak. Sepertinya hal ini perlu mengalami perubahan yang berarti agar bahasa Pakpak tidak hilang di daerahnya sendiri. Dalam bahasa Batak Pakpak ada suatu ucapan khas, yaitu "Njuah-Njuah", yang berarti "semoga sehat selalu".

Masyarakat suku Batak Pakpak secara tradisional wilayahnya disebut sebagai Tanoh Pakpak. Tanoh Pakpak secara adat terbagi atas lima wilayah adat, yaitu:
  • Simsim (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Keppas (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Pegagan (di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat)
  • Kelasen (di kecamatan Parlilitan kabupaten Humbang Hasundutan dan kecamatan Manduamas dan Barus kabupaten Tapanuli Tengah)
  • Boang (di kabupaten Aceh Singkil dan kota Subulussalam)
Ke 5 wilayah di atas secara tradisional disebut sebagai Tanoh Pakpak, yang walaupun berbeda wilayah, tapi secara tradisional adat pada dasarnya tidak terpisah satu sama lain, selain itu semua daerah administrastifnya masih berbatasan langsung.

Dalam masyarakat suku Batak Pakpak, terdiri dari 2 kesatuan komunitas terkecil, yaitu:
  • Lebuh merupakan bagian dari kuta yang dihuni oleh klan kecil
  • Kuta adalah gabungan dari lebuh-lebuh yang dihuni oleh suatu klan besar (marga) tertentu.
Jadi setiap lebuh dan kuta dimiliki oleh klan atau marga tertentu dan dianggap sebagai penduduk asli, sementara marga di luar marga dikategorikan sebagai pendatang.
Sistem kekerabatan orang Batak Pakpak menganut prinsip patrilineal dalam memperhitungkan garis keturunan dan pembentukan klan (kelompok kerabatnya) yang disebut marga. Dengan demikian berimplikasi terhadap sistem pewarisan dominan diperuntukkan untuk anak laki-laki saja. Bentuk perkawinannya adalah exogami marga, artinya seseorang harus kawin di luar marganya dan kalau kawin dengan orang semarga dianggap melanggar adat karena dikategorikan sumbang (incest).

Selain kelompok masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai suku Batak Pakpak di wilayah ini, sebenarnya terdapat suatu komunitas lain yang menyebut diri mereka sebagai suku Batak Dairi. Tapi menurut orang Pakpak bahwa orang Dairi itu adalah orang Pakpak juga, karena menurut orang Pakpak istilah Dairi adalah nama pemberian dari Pemerintah Hindia Belanda pada saat berkuasa di Tanoh Pakpak, yaitu "Dairi Landen" atau Tanah Dairi. Menurut penuturan cerita sejarah di Pakpak dijelaskan Tanoh Pakpak dibagi-bagi dalam berbagai wilayah oleh Hindia Belanda sehingga melumpuhkan perjuangan Raja Sisingamangaraja XII yang pusat perjuangannya di Pearaja dan beberapa daerah lainnya di Tanoh Pakpak.
Daerah administrasi Dairi Landen dipisahkan dari daerah-daerah wilayah masyarakat Pakpak lainnya misalnya:
  • Parlilitan (Humbang Hasundutan),
  • Tongging (Karo),
  • Boang (Aceh Singkil dan Subulussalam)
  • Barus – Manduamas (Tapanuli Tengah). 
Beberapa suak Pakpak menerima penggunaan kata Pakpak sebagai nama induk suku, tapi beberapa suak lain lebih memilih menggunakan kata Dairi sebagai nama induk suku. Oleh karena itu dalam pengucapan lebih sering diucapkan sebagai Pakpak Dairi, seperti penamaan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), ataupun nama-nama organisasi/kumpulan orang Pakpak sering memakai kata Pakpak Dairi.

Dalam beberapa tulisan di media internet, beberapa penulis asal Pakpak kurang setuju kalau orang Pakpak dikelompokkan menjadi sub etnis Batak yang terdiri dari Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing dan Batak Angkola. Menurut mereka orang Pakpak berbeda dengan etnis Batak lainnya. Saat ini belum ada penelitian yang bernilai ilmiah yang dapat diterima sebagai suatu fakta umum (opinion doctorum) apakah Pakpak itu sub etnis Batak atau merupakan etnis yang berdiri sendiri.

Sebagian kecil orang Pakpak menyatakan terdapat perbedaan konsep antara orang Pakpak dengan etnis Batak lain. Seperti misalnya kepercayaan asli orang Batak Toba yang percaya kepada Debata Mulajadi Na Bolon yang ternyata tidak dikenal dalam tradisi orang Pakpak. Selain itu, konsep Dalihan Natolu juga tidak ada dalam masyarakat Pakpak.
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, ternyata justru persamaannya sangat banyak sekali antara orang Pakpak dengan etnis-etnis Batak lainnya. Misalnya konsep exogami marga dalam perkawinan, konsep patrilineal dalam pewarisan, konsep marga-marga dan persaudaraan marga serta kearifan tradisional dalam pengelolaan lingkungan. Juga, kemiripan pada bahasa, karakter, adat istiadat, budaya, rumah adat, struktur fisik dan lain-lain banyak lagi. Jadi mungkin kalau orang Pakpak tidak mau disebut sebagai sub-suku Batak, mungkin lebih bijaksana kalau disebut sebagai bagian dalam Rumpun Batak saja.

Asal Usul
Belum ada penelitian yang menjelaskan secara pasti tentang asal usul orang Pakpak. Tapi ada beberapa versi yang coba menjelaskan tentang asal usul orang Pakpak, walaupun masih berbau spekulasi. Salah satunya adalah mengatakan bahwa orang Pakpak berasal dari India, ketika pedagang-pedagang dari India mendarat di pantai Barus dan daerah pantai Singkil, yang masuk ke pedalaman sepanjang daerah Pakkat sampai ke Singkil dan beranak pinak menjadi orang Pakpak. Alasannya adalah bahwa adanya kebiasaan tradisional orang Pakpak dalam pembakaran tulang-belulang nenek moyang dan Barus sebagai daerah pantai dan pusat perdagangan berbatasan langsung dengan Tanoh Pakpak.

Versi lain, mengatakan bahwa orang Pakpak berasal dari orang Batak Toba yang merantau ke Tanoh Pakpak. Alasannya karena banyaknya kesamaan struktur sosial dan kemiripan marga-marga antara orang Pakpak dengan orang Batak Toba.

Versi ketiga, dikatakan bahwa orang Pakpak sudah ada sejak zaman dahulu kala, sebelum hadirnya etnis-etnis Batak lainnya. Alasannya didasarkan pada suatu cerita rakyat, dimana diceritakan adanya 3 zaman manusia di Tanoh Pakpak, yakni:
  • Zaman Tuara (manusia raksasa)
  • Zaman si Aji (manusia primitif)
  • Zaman manusia (homo sapien).
Satu hal yang pasti umur masyarakat Pakpak itu hingga saat ini belum dapat ditentukan karena penemuan-penemuan bekas bekas tulang-belulang yang dibakar dan mejan-mejan (patung batu) menunjukkan bahwa orang Pakpak menurut dugaan mungkin ada sejak Zaman Batu.

Menurut pendapat lain, nenek moyang orang Pakpak diperkirakan awalnya masuk ke Tanah Karo dan menetap disana. Ini dibuktikan dengan adanya kedekatan bahasa antara suku Karo dan Pakpak, demikian juga dengan adanya marga Cibro (Sibero di Karo), Maha, Lingga (Sinulingga di Karo), dan lain-lain. Hal tersebut juga dibenarkan oleh cerita orang Karo bahwa Ginting Sini Suka menurut cerita lisan Karo berasal dari Kelasen (Pakpak) berasal dari Lingga Raja di Pakpak. Sementara itu ada juga marga-marga Pakpak yang berasal dari Toba menetap di Tanoh Pakpak dan menjadi Raja Kuta seperti marga Kabeaken dari Habeahan (Pasaribu), marga Lembeng (Limbong), Sagala, Kaloko (Haloho), dan lain-lain.

Menurut para peneliti, sejak masa ribuan tahun sebelum masehi, daratan Sumatra memang telah dihuni oleh manusia batak purba. Awalnya mereka hidup dalam satu komunitas, tapi karena mereka memiliki kebiasaan hidup secara nomaden, seiring waktu, puluhan, ratusan bahkan sampai ribuan tahun, mereka pun tersebar-sebar dan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah. Kemungkinan beberapa kelompok terjadi perkawinan campur dengan para pendatang yang mungkin dari India atau pendatang dari daratan Indochina. Maka terbentuklah komunitas-komunitas tersendiri dengan identitas mereka sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Tapi walaupun telah terpisah-pisah selama ribuan tahun dan mengalami proses perubahan dalam tata cara, tradisi, budaya bahkan bahasa dan lain-lain, dan masing-masing menyatakan berbeda satu sama lain, tapi tetap masih bisa ditarik garis kesamaan di antara mereka semua, yang menunjukkan bahwa mereka semua adalah saudara serumpun.

Orang Batak Pakpak diklasifikasikan dalam 5 suak (sub-suku) berdasarkan dialek:
  • Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Simsim meliputi wilayah Salak, Situje, Situju, Kerajaan, Pergetteng-getteng Sengkut, Tinada dan Jambu.
    Marga-marganya yaitu Berutu, Padang, Solin, Cibro, Sinamo, Boang Manalu, Manik, Banurea, Sitakar, Kabeaken, Lembeng, Tinendung dan lain-lain.
  • Pakpak Keppas, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di wilayah Sidikalang, Siteelu Nempu, Siempat Nempu, Silima Pungga-Pungga, Tanoh Pinem, Parbuluan, Lae Hulung.
    Marga-marganya yaitu Angkat, Bintang, Capah, Ujung, Berampu, Pasi, Maha, dan lain-lain.
  • Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Pegagan meliputi Sumbul, Tiga Baru, Silalahi, dan Tiga Lingga.
    Marga-marganya yaitu Lingga, Matanari, Maibang, Kaloko, Manik Sikettang, dan lain-lain.
  • Pakpak Kelasen (Klasen), yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Kelasen meliputi wilayah Parlilitan, Pakkat, Barus dan Manduamas.
    Marga-marganya yaitu Tinambunan, Tumangger, Turuten, Maharaja, Pinayungen, Anak Ampun, Berasa, Gajah, Ceun, Meka, Mungkur, Kesogihen dan lain-lain.
  • Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang menetap dan memilki hak ulayat di wilayah Boang meliputi Aceh Singkil yakni Simpang Kiri, Simpang Kanan, Lipat Kajang dan Kota Subulussalam.
    Marga-marganya yaitu Saraan, Sambo, Bancin, Kombih, Penarik, dan lain-lain.

Marga-marga Pakpak, secara keseluruhan:
Anak Ampun, Angkat, Bako, Bancin, Banurea, Berampu, Berasa, Berutu, Bintang, Boang Manalu, Capah Cehun, Cibro, Cibero Penarik, Gajah, Gajah Manik, Goci, Kaloko, Kabeaken, Kesogihen, Kombih, Kudadiri, Kulelo, Lembeng, Lingga, Maha, Maharaja, Manik, Manik Sikettaang, Manjerang, Matanari, Meka, Mucut, Mungkur, Munte, Padang, Padang Batanghari, Pasi, Pinayungen, Simbacang, Simbello, Simeratah, Sinamo, Sirimo Keling, Solin, Sitakar, Sagala, Sambo, Saraan, Sidabang, Sikettang, Simaibang, Tendang, Tinambunan, Tinendung, Tinjoan, Tumangger, Turuten, Ujung.

Adat Istiadat dan Budaya
Masyarakat Pakpak mengenal hubungan Peradatan “Sulang Silima” yang agak mirip dengan “Dalihan Natolu” dalam masyarakat Toba dan “Sangkep Enggeloh/Rakut Sitellu” dalam masyarakat Karo.
Adapun unsur Sulang Silima itu adalah:
  • Sukut;
  • Dengan sebeltek Si kaka-en (saudara sekandung yang lebih tua)
  • Dengan sebeltek Si kedek-en (saudara sekandung yang lebih muda)
  • Kula-kula/ puang (kelompok pihak pengantin perempuan)
  • Berru (kelompok pihak pengantin laki-laki).

Tradisi Upacara Adat
  1. Kerja Njahat (Upacara Dukacita)
    Misalnya Upacara Kematian (males bulung simbernaik, males bulung buluh, males bulung sampula), Upacara Mengankat Tulang Belulang (mengokal tulan) dan Upacara Membakar Tulang Belulang (menutung tulan).
  2. Kerja Baik (Upacara Sukacita)
    Misalnya Upacara Kehamilan (memerre nakan pagit), Upacara Kelahiran (mangan balbal dan mengakeni), Upacara Masa Anak-Anak (mengebat, mergosting), Upacara Masa Remaja (mertakil/sunat, pendidien/baptis, meluah/naik sidi), Upacara Masa Dewasa, Upacara Perkawinan (merbayo) dan Upacara Memberi Makan Orang Tua (menerbeb).
  3. Upacara-Upacara Lain
    Misalnya Upacara Mendegger Uruk, Upacara Merintis Lahan (menoto), Upacara Memepuh Babah/Merkottas, Upacara Pembakaran Lahan (menghabani), Upacara Menjelang Penanaman Padi (menanda tahun), Upacara Mengusir Hama (mengkuda-kudai), Upacara Syukuran Panen (memerre kembaen).

Bentuk perkawinan dalam masyarakat Pakpak
  1. Sitari-tari (Merbayo atau Sinima-nima), merupakan bentuk yang dianggap paling baik atau ideal karena hak dan kewajiban pengantin laki-laki dan perempuan telah terpenuhi.
    Dalam merbayo (Upacara Perkawinan) dikenal beberapa tahapan, yaitu:
    - Mengirit/ Mengindangi (Meminang)
    - Mersiberen Tanda Burju (Tukar Cincin)
    - Mengkata Utang (Menentukan Mas Kawin)
    - Merbayo (Pesta Peresmian)
    - Balik Ulbas
  2. Sohom-sohom, upacaranya sederhana dan dihadiri keluarga terdekat saja, semua unsur adat terpenuhi tetapi secara ekonomi lebih kecil.
  3. Menama, disini pihak keluarga perempuan tidak setuju, sehingga dicari jalan lain dengan kawin lari, sehingga sebagai tanda rasa bersalah pengantin cukup membawa makanan (nakan sada mbari) sebagai tanda minta maaf dan pada suatu saat nanti mereka akan mengadati.
  4. Mengrampas, artinya mengambil paksa isteri orang lain, sanksi untuk laki-laki adalah membayar mas kawin yang tidak mempunyai batasan.
  5. Mencukung, hampir sama dengan mengrampas.
  6. Mengeke, mengawini janda dari abang atau adik laki-laki.
  7. Mengalih, seorang laki-laki mengawini janda baik bekas istri abang atau adiknya maupun istri orang lain.

Istilah Kekerabatan Ego dengan Saudara Inti dan Keluarga Sekandung (Sinina)
  • Bapa (ayah)
  • Inang (ibu)
  • Kaka/ Abang (abang)
  • Dedahen/ Anggi (adik laki-laki/ adik perempuan)
  • Turang (saudara perempuan)
  • Mpung/ Poli (kakek)
  • Mpung Daberru (nenek)
  • Patua (saudara laki-laki tertua ayah)
  • Nantua (istri dari saudara laki-laki tertua ayah)
  • Tonga (saudara laki-laki tengah ayah)
  • Nan Tonga (istri saudara laki-laki tengah ayah)
  • Papun (saudara laki-laki termuda ayah)
  • Nangampun (istri saudara laki-laki termuda ayah)
  • Inanguda (saudara perempuan ibu yang lebih muda)
  • Panguda (suami saudara perempuan ibu yang lebih muda)
  • Nan Tua (saudara perempuan ibu yang lebih tua)
  • Patua (suami saudara perempuan ibu yang lebih tua)

Istilah Kekerabatan Ego dengan kelompok Berrunya
  • Turang (saudara perempuan)
  • Silih (suami saudara perempuan/ ipar)
  • Beberre (anak saudara perempuan/ keponakan)
  • Berru (anak perempuan Ego)
  • Kela (menantu laki-laki)
  • Namberru (saudara perempuan ayah)
  • Mamberru (suami dari saudara perempuan ayah)
  • Impal (anak laki-laki saudara perempuan ayah)
  • Turang (anak perempuan saudara perempuan ayah)
  • Mamberru (mertua laki-laki saudara perempuan Ego)
  • Namberru (mertua perempuan saudara perempuan Ego)

Istilah Kekerabatan Ego dengan kelompok Puangnya:

  • Puhun (saudara laki-laki ibu)
  • Nampuhun (istri saudara laki-laki ibu)
  • Impal (anak laki-laki/perempuan saudara laki-laki ibu)
  • Sinisapo (istri Ego)
  • Silih (saudara laki-laki istri/ ipar laki-laki)
  • Bayongku (istri saudara laki-laki istri Ego)
  • Puhun (mertua laki-laki)
  • Nampuhun (mertua perempuan)
  • Kalak Purmaen (menantu perempuan)
  • Purmaen (anak saudara laki-laki istri Ego)

Pakaian tradisional adat
Pakaian adat masyarakat Pakpak cenderung berwarna hitam. Untuk laki-laki (daholi) adalah baju lengan panjang dengan kerah mirip kerah Mandarin kemudian ada garis warna merah pada ujung tangan, pada daerah kancing baju, dan pada daerah lain sebagai tambahan. Untuk penutup kepala dipakai oles (kain adat) yang mempunyai rambu (rumbai) berwarna merah atau kuning yang dibentuk seperti peci dengan rambu kearah samping depan. Celana warna hitam dengan ukuran ¾ dipakai dengan mandar (sarung) sebagai penutup celana. Biasanya laki-laki menempatkan golok (parang) di pinggang sebagai aksesoris tambahan.

Untuk perempuan memakai saong (penutup kepala) dengan bentuk “cudur” atau mengerecut ke bagian belakang. Posisi rambu olesnya berada di depan, bajunya juga berwarna hitam lengan panjang dengan hiasan payet berwarna kuning di depan, dibelakang dan dibagian ujung lengan. Untuk rok dipakai oles yang berwarna hitam dan ikat pinggang. Sebagai aksesoris tambahan pada tangan disematkan ucang-ucang (tas kecil) dan pada dada disematkan hiasan berwrna kuning keemasan.

Rumah tradisional
rumah adat Pakpak (pakpakblog)
Rumah Adat masyarakat Pakpak disebut Sapo Jojong, yaitu sebuah rumah panggung terdiri dari ijuk sebagai atap dengan atap yang bertingkat dua. Ornamen utamanya terdiri dari ukiran atau lukisan yang mirip dengan rumah adat Karo maupun Toba. Di atas pintu rumah biasanya ada gambar sepasang cicak dan payudara wanita yang melambangkan kesuburan.


Seni tari

Tari dalam Bahasa Pakpak disebut “Tatak” yang dalam Bahasa Toba disebut “Tortor” dan Bahasa Karo disebut “La‘ndek”. Tarian tradisional Pakpak sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya Tatak Memupu/ Menapu Kopi, Tatak Mendedah, Tatak Renggisa, Tatak Balang Cikua, Tatak Garo-Garo, Tatak Tirismo Lae Bangkuang, Tatak Mersulangat, Tatak Menerser Page, Tatak Muat Page, Tatak Adat, Tatak Mendedohi Takal-Takal, dan lain-lain. Selain itu, dikenal juga seni bela diri misalnya moccak dan tabbus.

Seni musik
Seni alat musik misalnya Kalondang, Genderang, Gung Sada Rabaan, Kucapi, Sordam, Lobat, Kettuk, Gerantung, dan lain-lain.
Seni vokal diantaranya odong-odong dan nangen. Selain itu, seni vokal juga sudah semakin dikembangkan sekarang ini, diantaranya lagu paling dikenal yaitu Cikala le Pong Pong, Delleng Sitinjo, Lae Une, Nan Tampuk Mas, dan lain-lain.

Sastra
Kesusastraan juga dikenal dalam adat Pakpak, terutama peribahasa dan pantun. Biasanya peribahasa berisi anjuran dan nasihat sedangkan pantun juga berisi anjuran dan nasihat meskipun ada pantun jenaka. Misalnya peribahsa yaitu "ipalkoh sangkalen mengena penggel" artinya dipukul talenan telinga terasa, maknanya yaitu untuk kita selalu menuruti, was-was dan tanggap terhadap nasihat yang berguna yang diberikan oleh orang yang lebih berpengalaman. Contoh pantun yaitu "sada lubang ni sige, sada ma ngo mahan gerrit-gerriten, tah soh mi ladang dike pe, ulang ma ngo mbernit-mberniten" artinya kemanapun kita merantau semoga tetap sehat selalu. Prosa juga lumayan berkembang ditandai dengan banyaknya cerita-cerita legenda yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi seterusnya. Contoh cerita rakyat Pakpak yaitu Cerita Simbuyak-buyak yang dikenal luas dalam masyarakat Kelasen, Cerita Nan Tampuk Mas yang dikenal masyarakat Keppas.

Kerajinan tangan
Kerajinan tangan suku Pakpak sudah dikenal sejak jaman dahulu yaitu dengan adanya Mejan Batu (sejenis patung yang terbuat dari batu) yang terdapat hampir disetiap kuta. Selain itu ada juga “membayu” yaitu menganyam tikar, bakul, kirang (keranjang) dan lain sebagainya yang terbuat dari sejenis rumput yang tumbuh di sawah. Selain itu kerajina rotan dan bambu juga banyak dikembangkan misalnya kursi, sangkar burung, bubu, tampi, juga keranjang. Kerajinan lainnya yaitu terutama di daerah Kelasen yaitu “meneppa” yaitu pandai besi terutama meneppa golok (pisau dan parang), pedang, kujur (tombak), cangkul, cuncun dan lain-lain.

Makanan khas
Jenis-jenis makanan tradisional misalnya Pelleng (ada perbedaan dalam resep dan bentuk serta penyajian dari pelleng Pegagan dan Simsim) nasi yang dilumat dengan sendok dan berwarna kuning, Ginaru Ncor, Nditak (Tepung beras dicampur kelapa parut dan gula putih lalu dikepal dengan tangan), Pinahpah (padi muda yang dipipihkan), Ginustung, Sagun-Sagun (Tepung beras yang digongseng dengan gula pasir dan kelapa parut), Sambal Jeruk (durian yang diasamkan), Ikan Bingkis, dan lain-lain.


sumber:
Read More...

Suku Keppas

Suku Keppas, adalah salah satu komunitas masyarakat yang bermukim di kabupaten Dairi. Mereka adalah salah satu dari puak suku Batak Pakpak, yang hidup berdampingan dengan puak Batak Pakpak lainnya, seperti suku Pegagan, tetapi berbeda wilayah pemukiman. Suku Keppas ini banyak bermukim di kota Sidikalang dan di sekitarnya. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, kecamatan Sidikalang dan di kota Sidikalang.

Suku Keppas berbicara dalam bahasa Batak Pakpak, tapi mereka memiliki perbedaan sedikit dalam dialek dengan puak Pakpak lainnya. Dialek Keppas ini sedikit dipengaruhi oleh dialek dari kabupaten tetangganya dari wilayah provinsi Aceh, tetapi mereka tetap bisa berkomunikasi dengan puak Pakpak lainnya, mereka akan saling memahami dengan mudah.

Masyarakat suku Keppas pada umumnya memeluk agama Kristen (Katolik dan Protestan), ada juga yang beragama Islam (terutama yang dekat dengan perbatasan provinsi Aceh), selain itu masih ada yang tetap mempertahankan agama tradisional mereka seperti ugama sipelbegu.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pakpak Keppas ini, masih melekat kebiasaan lama mereka seperti mempercayai hal-hal gaib, mistik, praktek perdukunan dan mempercayai adanya roh-roh yang memiliki kekuatan di hutan, atau tempat-tempat yang dianggap angker.

Beberapa marga yang ada pada masyarakat suku Keppas adalah Ujung, Angkat, Bako, Bintang, Kudadiri, Maha, Capah, Sinamo dan Gajah Manik.

Karena keadaan alam wilayah pemukiman suku Keppas ini berada di pegunungan, maka profesi masyarakatnya sebagian besar adalah sebagai petani. Beberapa komoditas pertanian yang unggul dari daerah ini adalah Kopi (Kopi Sidikalang, sebagai salah satu kopi terbaik di Indonesia), Durian, Jagung, Kemenjen (Kemenyan), Nilam, Jeruk, Tiung (Durian Belanda), Kentang dan masih banyak komoditi unggulan lainnya. Sebagian besar komoditi unggulan sudah diekspor ke luar negeri.

artikel terkait:
Read More...

Suku Batak Padang Lawas

Suku Batak Padang Lawas, adalah suatu komunitas masyarakat, salah satu dari sekian banyak rumpun Batak. Mereka bermukim di kabupaten Padang Lawas dan kabupaten Padang Lawas Utara yang berada di provinsi Sumatra Utara. Suku Batak Padang Lawas disebut juga sebagai suku Batak Padang Bolak.

Suku Batak Padang Lawas, secara sejarah asal usul kemungkinan besar masih terkait erat dengan suku Batak Mandailing. Sebelumnya orang Batak Padang Lawas diakui sebagai sub-suku dari suku Batak Mandailing. Tapi karena komunitas ini hidup di wilayah yang terpisah dengan masyarakat suku Mandailing, saat ini suku Batak Padang Lawas ini diakui sebagai suku tersendiri yang disebut sebagai suku Padang Lawas atau suku Batak Padang Lawas.

Secara pasti asal usul suku Batak Padang Lawas tidak bisa diungkapkan secara jelas. Tetapi dari cerita rakyat secara turun temurun, dikisahkan bahwa dahulunya mereka berasal dari pembauran antara orang-orang dari sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah ini yang terjadi kawin-mawin dengan penduduk setempat. Yang dimaksud dengan kerajaan itu, kemungkinan adalah Kerajaan Holing atau Kerajaan Chola, yang datang dari India Selatan. Kedua kerajaan ini pernah jaya di wilayah ini pada masa lalu. Suatu kesimpulan yang muncul mengatakan bahwa suku Padang Lawas ini, berasal dari pembauran suku Lubu, suku Mandailing dan orang-orang dari Kerajaan. Selain itu di wilayah Padang Lawas ini banyak ditemukan situs-situs kuno dari era kerajaan Hindu Kuno, yang diperkirakan usianya sejak awal abad 1 M, tercatat paling tua dari kerajaan-kerajaan Hindu lainnya yang ada di Indonesia. Dengan penemuan situs-situs ini, menunjukkan bahwa orang Batak yang menetap di sekitar Padang Lawas sudah eksis sejak era kerajaan Hindu Kuno.

Bahasa
Orang Batak Padang Lawas berbicara dalam bahasa Batak Padang Lawas. Bahasa Batak Padang Lawas sendiri dianggap sebagai dialek dari bahasa Mandailing, karena banyak perbendaharaan kata yang sama dan mirip antara bahasa Padang Lawas dengan bahasa Mandailing.

Kepercayaan
Masyarakat suku Padang Lawas secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat. Agama Islam di wilayah ini dibawa oleh pasukan Paderi Minangkabau yang menyerang Tanah Batak di daerah Selatan, yang pada saat itu memang sangat rapuh dan tidak memiliki pertahanan sama sekali. Sehingga pasukan Paderi berhasil melumpuhkan wilayah Selatan Tanah Batak, dan mengislamkan hampir seluruh penduduk di wilayah ini.

Tari Tradisional
tari Tor-tor
Suku Batak Padang Lawas memiliki tarian khas, yang disebut "Tari Tor-Tor". Istilah tarian ini sama dengan istilah tarian pada suku batak lainnya, seperti Toba, Angkola, Simalungun dan Mandailing. Hanya saja memiliki gerak dan cara yang sedikit berbeda. Pada tarian Tor-Tor ini terdiri dari panortor dan pangayapi (panortor berada di posisi depan pangayapi).

Peraturan dalam tarian tortor suku Batak Padang Lawas khususnya daerah Barumun Tengah dan sekitarnya, tidak memperbolehkan memakai alas kaki seperti sepatu kecuali bagi kedua mempelai (bayo pangoli/ pengantin putra dan boru nadioli/ pengantin Putri).


Pakaian Adat
pakaian adat
Pakaian tradisional orang Batak Padang Lawas mirip dengan pakaian adat Mandailing. Penutup kepala laki-laki disebut sebagai Happu, dan aksesoris sebagai penutup kepala perempuan disebut dengan istilah Bulang.












Partuturon (Dalihan Na Tolu)
Dalam masyarakat suku Padang Lawas, untuk memanggil atau menyebut orang lain (kata panggilan) disebut partuturon. Dalam tradisi orang Padang Lawas tanpa mengetahui partuturon bisa merusak dan melangggar peraturan yang berlaku dalam adat setempat. Partuturon terdiri dari 3 bagian, yaitu: 
  1. Mora, yaitu bagian kelompok keluarga ibu dan istri. (tulang, tunggane, tulang naposo)
  2. Anakboru, bagian kelompok suami saudara perempuan, suami saudara perempuan ayah, dan suami anak perempuan. (amangboru, lae, bere)
  3. Kahanggi, yaitu bagian kelompok saudara laki-laki ayah (uda/ Paman) sampai ke atas (uwak/ amangtua, oppungsuhut, anak da pahoppu), saudara laki-laki dan anak saudara laki-laki sampai ke bawah.
Tiga partuturon ini juga disebut Dalihan Natolu (Mora, Anak Boru, Kahanggi), yang menjadi induk dari partuturon dalam masyarakat suku Batak Padang Lawas. Sebutan istilah partuturon kemudian berkembang menjadi mora ni mora dan atau pisang raut.
Dalam kehidupan keseharian, masyarakat suku Padang Lawas ini, sebagian besar hidup sebagai petani. Sebagian besar bekerja di perkebunan karet. Selain itu mereka juga bercocok tanam untuk berbagai jenis tanaman sayur-sayuran. Selain itu, memelihara ternak juga menjadi kegiatan penting bagi beberapa penduduk di wilayah Padang Lawas ini.

sumber:
Read More...

Suku Batak Mandailing

Suku Batak Mandailing adalah salah satu suku dari sekian banyak Rumpun Batak yang telah lama hidup dalam suatu komunitas di kabupaten Mandailing-Natal, penyebaran juga terdapat di kabupaten Padang Lawas, kabupaten Padang Lawas Utara, dan sebagian kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing juga menyebar hingga ke wilayah provinsi Sumatra Barat, seperti di kabupaten Pasaman dan kabupaten Pasaman Barat.

pemukiman Mandailing
Suku Mandailing memiliki adat, budaya dan bahasa sendiri. Mereka berbicara dalam bahasa Mandailing. Bahasa Mandailing sendiri sangat berkerabat dengan bahasa Batak Angkola dan Batak Toba. Dilihat dari tradisi budaya, adat dan bahasa terdapat keterkaitan erat di masa lalu antara suku Batak Mandailing dengan suku Batak Angkola, Toba dan Padang Lawas. Selain itu mereka juga diperkirakan masih terkait hubungan di masa lalu dengan suku Batak Rokan dan suku Rao.

Menurut salah satu versi dikatakan bahwa kata "Mandailing" berasal dari kata "Mandahiling", yang berakar dari "Mandala" dan "Holing", yang diduga berawal dari suatu nama daerah di bawah kekuasaan sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga adalah sebuah kerajaan dari India yang pernah berdiri di wilayah ini, dan membentuk koloni sejak abad 12 dan diduga terjadi perkawinan dengan penduduk asli "batak" setempat, yang menurut perkiraan wilayah mereka berada di antara Portibi hingga Pidoli.

Suku Mandailing ini berada di antara beberapa kebudayaan besar, yaitu budaya Batak Toba, Batak Angkola dan budaya Minangkabau. Pada suatu sisi suku Mandailing sebagai bagian dari rumpun Batak, tapi keberadaan mereka sempat diklaim berasal dari Minangkabau. Apabila dilihat dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing, bahwa suku Mandailing ini lebih berkerabat dengan suku Batak Toba dan Batak Angkola, dibanding dengan suku Minangkabau. Selain itu marga-marga yang ada pada suku Mandailing juga banyak yang sama dengan marga-marga pada suku Batak Toba dan Batak Angkola. Sedangkan dengan suku Minangkabau, sangat berbeda dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing sangatlah berbeda. Hanya karena pada suku Minangkabau terdapat salah satu suku/marga Mandaihiliang, oleh karena itu suku Minangkabau mengklaim bahwa Mandailing berasal dari salah satu marga/suku dari suku Minangkabau tersebut. Apabila dirunut ke masa lalu, orang Mandailing yang sejak dahulu sudah memiliki jiwa merantau, tersebar ke mana-mana seperti ke Malaysia, dan juga termasuk ke wilayah Minangkabau. Di wilayah Minangkabau mereka berbaur dengan suku setempat, melepas adat-istiadat aslinya, dan membentuk suatu komunitas yang disebut "mandailing" sesuai dengan nama tempat asal mereka "Tanah Mandailing". Oleh karena dialek orang Minangkabau yang susah menyebut "mandailing", maka komunitas merekapun terucap sebagai "Mandaihiliang". Jadi yang terjadi adalah sekelompok orang Mandailing bermigrasi ke Minangkabau, bukan sebaliknya. Perjalanan orang Mandailing di Minangkabau di masa lalu banyak terjadi di wilayah Pagarruyung di Minangkabau.

suku Mandailing
Suku Mandailing sendiri menganut paham kekerabatan patrilineal, tapi akhir-akhir ini ada yang menerapkan sistem matrilineal. Di Mandailing terdapat marga-marga, seperti: Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut dan lain-lain.
Marga-marga yang terdapat di Tanah Mandailing Godang, banyak memiliki pertalian dengan marga-marga dari Batak Utara (Batak Angkola dan Batak Toba). Tapi karena telah terpisah sejak berabad-abad, dan banyak terjadi missing link, maka marga-marga Mandailing saat ini telah berkembang menjadi beberapa aliran marga tersendiri. (lihat marga Mandailing)

Penduduk suku Batak Mandailing mayoritas adalah beragama Islam.  Berbeda dengan orang Batak Toba yang beragama Kristen. Tapi kedua suku bangsa ini berawal dari sejarah asal usul yang sama.

Banyak persamaan dalam kebiasaan orang Batak Mandailing dengan kebiasaan orang Batak Utara (Toba), misalnya:
  • ketika menyambut pengantin di rumah pengantin laki-laki. Masyarakat Mandailing selalu menyambutnya dengan ucapan horas...horas...horas
  • ketika bayi lahir, biasanya akan dibawa keluar rumah (dipatutoru), biasanya bakar kemenyan di luar rumah, agar bayi yang telah terlahir tidak mendapat gangguan roh halus.
  • adanya Gordang yang hampir bersamaan. (Gordang sambilan di tanah Mandailing Godang)
  • banyaknya persamaan nama gunung, nama desa dan nama sungai di tanah Batak Mandailing dan Batak Toba.
  • adanya acara mangupa-upa bila ada pesta perkawinan di tanah Mandailing
  • adanya tarian Tor-tor
  • adanya cara-cara menyiram sesuatu yang baru kita beli. Biasa diberi nama ipangir, agar terlepas dari marabahaya
  • adanya Ulos
  • adanya hata-hata yang bersamaan cara merangkai kalimatnya bila ada pesta ataupun pertemuan adat.
  • adanya istilah-istilah dalam hubungan kefamilian seperti anak boru, kahanggi, mora, harajaan, ula-ula dan lain-lain.
  • adanya tarombo (silsilah) yang membuktikan adanya hubungan urutan marga.

Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera,yang berasal dari huruf pallawa, bentuknya mirip dengan aksara Rencong. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak yang digunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Namun tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai Mandailing sebelum abad 19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang baik dan buruk serta ramalan mimpi.

Dalihan Na Tolu merupakan fondasi budaya Angkola-Sipirok, Padang Lawas dan Mandailing, yang saat ini lambat laun mengalami ancaman kepunahan.
Pada Dalihan Na Tolu terdapat 3 unsur, yaitu:
  1. Kahanggi, adalah kelompok yang mengayomi.
  2. Anak boru, adalah kelompok yang melaksanakan tugas.
  3. Mora, adalah kelompok yang dalam posisi penasehat.
Pada Dalihan Na Tolu terdapat 109 nilai, yang diperas menjadi 9 nilai budaya utama, yaitu:
  1. Kekerabatan, mencakup hubungan primordial, suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah dan perkawinan.
  2. Religi, mencakup kehidupan beragama.
  3. Hagabeon, mencakup banyak anak-cucu serta panjang umur.
  4. Hasangapon, kemuliaan, kewibawaan dan kharisma.
  5. Hamaraon, mencakup kekayaan yang banyak tapi halal.
  6. Hamajuon, mencakup kemajuan dalam menuntut ilmu pengetahuan.
  7. Hukum, mencakup “ptik dan uhum’’ dalam rangka menegakkan kebenaran.
  8. Pengayoman, nilainya lebih kecil dari 7 unsur lainnya, karena orang Angkola-Mandailing harus mandiri.
  9. Konflik, mencakup terjadi pertarungan kekuatan tentang masalah tanah dan warisan.

sumber:
pic: gambar 2: barulagi.com
Read More...